Kominfo News :
Home » , , » Damai-Mu, Damaiku dalam Ekaristi

Damai-Mu, Damaiku dalam Ekaristi

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Wednesday, September 5, 2012 | 10:12 PM

Oleh: Emmy Pouw 
(Paguyuban Hanna Simeon)

Tujuh puluh orang Senior/wati dengan tas masing-masing terlihat berkumpul di halaman Gereja. Mereka berkumpul pada Jumat, 29 Juni lalu ditemani oleh sebuah bus besar yang parkir dihalaman. Mau kemana gerangan para Senior/wati  St. Laurentius ini? Ternyaaataaa.... mereka akan Rekoleksi di Wisma Pratista, Lembang.

Selama 2 hari dan 1 malam nanti, para senior/wati yang tergabung dalam Kelompok Kategorial Paguyuban Hanna Simeon (KK-PHS) ini akan mengikuti rekoleksi dengan tema “Damai-Mu, Damaiku, dalam Ekaristi”. Dan karena saat itu sedang holiday season, minta ampuuuun jalan menuju Wisma Pratista macet luar biasa. Tetapi Syukur Puji Tuhan, akhirnya sampai juga,satu bus dan beberapa mobil pribadi. Rombongan ini pun disambut oleh Tim Rekoleksi Pratista yang tediri atas seorang Pastor sepuh, siapa lagi kalau bukan Pst. Anton Rutten OSC; yang ditemani oleh Pst. Nana Sujana, OSC; Pst. Aaron Wawuru, OSC dan Fr. Felix, OSC.


Menurut Pst. Nana, OSC baru kali ini beliau melihat peserta rekoleksi yang terdiri atas para sepuh sebanyak ini. Karena itu Ibu M.M. Purwaningsih, yang akrab disapa Mbak Pur, selaku Ketua PHS  di wawancarai oleh Majalah Komunikasi, untuk dimuat dalam Edisi Agustus. Ini karena Tema Majalah Komunikasi pada Agustus nanti adalah seputar Lansia katanya. Usia para peserta yang ikut dalam rekoleksi ini rata-rata berusia di atas 70 tahun: ada yang 80 tahun, bahkan ada seorang ibu berusia 99 tahun. Bayangkan usianya hampir satu abad!!! Hebat bukan? Ibu ini mengikuti setiap sessi dengan sungguh-sungguh. Tak terlihat wajah ngantuk atau lelah sama sekali.

Dalam Sesi yang diberikan, Pst. Nana, OSC berpesan: Jangan pernah sia-siakan hidup, karena hidup itu selalu ada gunanya. Jangan pernah berkata: "Saya sudah tua, sudah tak ada gunanya". Kita juga harus selalu mencintai bahkan musuhpun harus kita cintai. Itulah seruan Yesus kepada kita.

Pst. Aaron membahas tentang Ekaristi. Salah satu keprihatinan yang kita lihat adalah masih sempatnya orang-orang melakukan kegiatan lain (ngobrol, ber-SMS ria, dll), padahal sedang mengikuti perayaan Ekaristi. Juga ketika memasuki gereja, mencelupkan jari ke dalam air suci sambil ngobrol dan membuat tanda salib asal-asalan saja. Juga lupa memberi hormat (dengan berlutut) pada Yesus yang bersemayam dalam Tabernakel, langsung saja duduk. Mengikuti perayaan Ekaristi berarti bertemu dengan Yesus, sang sumber Damai, jadi ini adalah sebuah pertemuan yang penting. Maka janganlah melakukan hal-hal lain. Berkonsentrasilah agar kita betul-betul merasakan kehadiran Yesus dan merasakan kedamaiannya. Kalau kita mengikuti perayaan Ekaristi dengan sungguh-sungguh, dengan penuh konsentrasi, maka kita akan mengalami buah-buah Ekaristi, yaitu perasaan tenang ,mencintai,memaafkan, suka cita, damai dan kita mengalami Iman.

Pst. Aaron juga membahas tentang membuat tanda salib. Mulai dari atas (pada dahi) turun ke bawah sampai melewati dada lalu ke bahu sebelah kiri kemudian ke kanan. Itu mempunyai makna : Berasal dari Allah Bapa, turun ke dunia (Putra Allah) dan melalui kematian (sebelah kiri) mencapai keselamatan (sebelah kanan). Itulah iman kita.

Frater Felix diminta untuk memimpin Ibadat pagi pada Sabtu, 30 Juni. Dalam ibadat ini, beliau mengajak para sepuh peserta rekoleksi untuk selalu bersyukur atas hidup yang sekarang dan mencari kedamaian dan ketenangan. Sementara itu, Pst. Rutten, OSC mengajak para peserta rekoleksi untuk selalu bersyukur, selalu mendapatkan sesuatu yang menguntungkan (untung cuma mata kiri yang kurang jelas, misalnya; atau untung ini dan itu, dll.) Senang atau tidak senang itu tergantung keputusan kita sendiri masing-masing. Kalau saya putuskan senang, maka senanglah saya. Tuhan selalu memberikan yang baik kepada kita, Ia Maha Baik. Kita lah yang salah, sering kita salah lihat lalu menyalahkan Tuhan. Kita boleh mohon, ceritakan kesusahan kita kepada Tuhan akan tetapi jangan menyuruh Tuhan untuk memberikan kepada kita apa yang kita minta.

Sesi terakhir diberikan oleh Pst. Aaron, OSC yang mengatakan bahwa Yesus merupakan sumber Damai. Bagaimana kita mencari kedamaian? Gunakanlah cara yang lebih akrab dengan Tuhan: dengan membaca kitab suci, dan berdoa. Berdoa setiap saat, di mana saja; tidak usah pada waktu-waktu tertentu, juga tidak hanya di tempat tertentu, tidak perlu menggunakan kata-kata formal, just chat (ngobrol) with Him. Kedamaian kita sering dirusak oleh rasa takut kita pada panggilan kita yang ke-2: "kematian". Panggilan pertama kita sudah kita jalankan yaitu: ada yang dipanggil untuk membangun sebuah keluarga, menjadi biarawan/wati dll.  Kita sekarang sedang menunggu panggilan kita yang ke dua yaitu kematian. Berdoalah, ikuti perayaan Ekaristi untuk bertemu dengan sang Sumber Damai. Berserahlah sambil tetap melakukan kegiatan/aktivitas yang masih bisa kita lakukan. Maka damailah kita wahai para PHS ers. Indah yaa!

Rekoleksi ditutup dengan Misa di Kapel, yang dipersembahkan oleh Pst. Aaron, OSC. Sesudah Misa para peserta menuju ruang makan untuk bersantap siang. Usai makan siang para PHS-ers segera say Sayonara karena peserta-peserta dari rombongan lain sudah menunggu giliran mereka. Tak lupa berfoto bersama dulu dengan latar belakang Pratista tentunya; that's a must!!!  Wah PRATISTA juga lagi Peak Season nih!!!

Sayonara, sampai jumpa!
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Paroki St. Laurentius Bandung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger