Kominfo News :
Home » » Falsafah "Noken Kosong"

Falsafah "Noken Kosong"

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Thursday, October 11, 2012 | 7:19 PM



Oleh: Pst. Charles Loyak, OSC

“Noken” adalah semacam tas berukuran sedang, yang terbuat dari anyaman daun sagu yang dikeringkan, yang biasa dipakai oleh orang-orang suku Asmat di Papua Selatan, untuk menyimpan makanan, atau pelbagai barang kebutuhan lainnya, seperti uang, rokok dan lain-lain. Noken itu biasanya digantungkan di dada, hampir pada setiap kesempatan.

Noken itu ternyata memiliki falsafah hidup tertentu yang sangat menarik, dan yang sangat diyakini oleh mereka yang menggunakannya. Seseorang dinilai oleh masyarakat, BAIK & BERBUDI, kalau nokennya selalu kosong, karena seluruh isinya telah dibagi-bagi sampai habis kepada yang membutuhkan. Mereka sangat yakin, bila noken itu KOSONG dengan cara demikian, Yang Mahaada akan mengisikan-Nya lagi sampai penuh melalui tangan-tangan orang di sekitarnya. Sebaliknya, bila noken tetapi penuh, enggan dikeluargkan dan dibagikan kepada yang membutuhkan, ini gambaran bahwa pemilik noken itu ‘tidak berbudi & tidak baik’. Yang Mahaada pun enggan menambahkan rejeki padanya. Dan memang, jadilah demikian dalam kehidupan mereka!

Falsafah tersebut di atas sebenarnya dari masa ke masa terus dan sedang mengajarkan suatu nilai kebajikan dalam hidup manusia pada umumnya, tidak hanya di Asmat, Papua. Apalagi manusia yang beriman kepada Yesus Kristus. Hidup kita mestinya juga bagaikan “noken kosong” itu. Seperti kata Amsal, ‘kebaikan-kebaikan yang ada dalam dirimu jangan ditahan-tahan, tetapi harus dibagi-bagi...’ (bdk. Ams 3:27) kepada sesama yang berkekurangan, dibagikan ‘sebagai rahmat’ dari Tuhan.

Seseorang yang bertanya kepada Yesus, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mrk 10:17 - Injil pada hari Minggu ini), jawaban Yesus memang mengejutkan orang itu. “Pergilah, juallah apa yang kau miliki, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin. Maka engkau akan beroleh harta di surga. Kemudian datanglah ke mari, dan ikutlah Aku.” (Mrk !0:21). Yesus memintanya untuk segera membagi-bagikan “isi nokennya” kepada orang-orang miskin yang membutuhkannya! Orang itu kecewa lalu pergi dengan sedih...

Di zaman kita sekarang ini, falsafah ‘noken kosong’, nampaknya juga kurang mendapat “tempat” dalam penghayatan hidup manusia beriman.    Kepada kita masing-masing, Allah Bapa kita, Dia Yang Mahaada, dengan cuma-cuma telah memberikan nafkah dan rejeki dalam aneka macam bentuk (keluarga yang bahagia, anak-anak, cucu-cuci, kesehatan yang baik, pendidikan, pengalaman, harta serta rejeki setiap hari, dan lain-lain). Namun “noken” kita yang penuh itu, jarang sekali “isinya” dengan rela dan ikhlas kita keluarkan dan bagikan kepada mereka yang membutuhkan. Begitu juga Allah Bapa kita, enggan menambahkan lagi isi noken kita. Mari menghidupi semangat “Falsafah Noken Kosong”!




Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Paroki St. Laurentius Bandung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger