Kominfo News :

Artikel Minggu ini

Hari Kedelapan

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Wednesday, November 28, 2012 | 3:00 AM

(Hari Kedelapan) Warta Pengharapan Kristiani di Tengah Dunia yang Terpecah-belah “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu.”(Yeh. 37)

Bacaan
Yeh. 37:1-4:                 Aku akan membuka kubur-kuburmu.
Mzm. 104:24-34:         Engkau membarui muka bumi.
Why. 21:1-5a: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!
Mat. 5:1-12:                 Berbahagialah kamu ...

Renungan

Aku akan menempatkan Roh-Ku di dalam tubuhmu dan kamu akan hidup. Iman yang didasarkan pada Kitab Suci dipenuhi dengan pengharapan yang radikal bahwa kata terakhir dalam sejarah adalah kata-kata Allah, dan bahwa kata terakhir yang diucapkan Allah bukanlah kata-kata penghakiman tetapi kata-kata penciptaan yang melahirkan suatu ciptaan baru. Sebagaimana terungkap dalam renungan hari-hari yang lalu, orang-orang Kristiani hidup di tengah-tengah suatu dunia yang diwarnai dengan aneka perpecahan dan pengasingan. Tetapi sikap Gereja tetaplah sikap berharap. Sikap yang selalu berharap ini tidak didasarkan pada apa yang dapat diperbuat oleh manusia, tetapi pada  kuasa dan keinginan lestari Allah untuk mengubah kehancuran dan perpecahan menjadi kesatuan dan keutuhan, kebencian yang mendatangkan kematian menjadi cinta yang mendatangkan kehidupan. Bangsa Korea terus-menerus menanggung konsekuensi tragis dari perpecahan nasional, tetapi di kalangan mereka juga muncul pengharapan Kristiani yang bernyala-nyala.

Pengharapan Kristiani tetap hidup bahkan di tengah penderitaan yang amat berat sebab pengharapan itu lahir dari cinta Allah yang teguh yang diungkapkan pada salib Kristus. Pengharapan bangkit bersama dengan kebangkitan Yesus dari kubur, ketika kematian dan kuasa maut dikalahkan; pengharapan menyebar bersama dengan turunnya Roh Kudus pada Hari Pentakosta, yang membarui muka bumi. Kristus yang bangkit adalah awal dari kehidupan baru yang autentik. Kebangkitan Kristus memaklumkan berakhirnya hukum lama dan menaburkan benih-benih ciptaan baru yang abadi; di sana segala sesuatu akan didamaikan dalam Dia, dan Allah akan menjadi segala-galanya dalam segala-galanya.

Lihatlah, Aku membuat segala sesuatu menjadi baru. Pengharapan Kristiani dimulai dengan pembaruan ciptaan, sedemikian rupa sehingga terpenuhilah maksud asli dari karya penciptaan yang dilakukan oleh Allah. Dalam Kitab Wahyu 21, Allah tidak berkata ‘Aku menciptakan semua hal yang baru” tetapi “Aku membuat segala sesuatu menjadi baru.” Pengharapan Kristiani bukanlah suatu penantian panjang yang pasif akan datangnya akhir dunia tetapi keinginan yang aktif untuk terjadinya pembaruan dunia. Pembaruan ini sudah dimulai dalam peristiwa kebangkitan dan Pentakosta. Pengharapan ini bukanlah pengharapan akan datangnya puncak apokaliptik sejarah yang menghancurkan dunia kita, tetapi pengharapan akan terjadinya perubahan fundamental dan radikal dari dunia yang sudah kita kenal ini. Awal baru yang ditampilkan Allah akan mengakhiri segala dosa, perpecahan, dan keterbatasan dunia; awal baru ini juga akan mengubah ciptaan sehingga ia pantas ambil bagian dalam kemuliaan Allah dan ikut menikmati keabadian-Nya.

Pengharapan inilah yang mendorong dan menopang orang-orang Kristiani ketika mereka berhimpun untuk berdoa memohon kesatuan. Kekuatan doa untuk kesatuan ini adalah kekuatan yang datang dari pembaruan yang dikerjakan Allah terhadap dunia yang Ia ciptakan; kebijaksanaan yang mendasari doa ini adalah kebijaksanaan Roh Kudus yang menghembuskan hidup baru ke dalam tulang-tulang kering dan membuatnya hidup; ketulusan doa untuk kesatuan ini tercermin pada keterbukaan diri kita secara penuh kepada kehendak Allah, yakni keterbukaan untuk diubah menjadi alat-alat kesatuan yang dikehendaki Kristus bagi murid-murid-Nya.

Doa

Allah yang mahabaik, Engkau selalu menyertai kami di tengah-tengah penderitaan dan kekalutan; dan sampai akhir zaman Engkau tetap akan menyertai kami. Bantulah kami menjadi umat yang sungguh penuh pengharapan, yang tulus menghayati Sabda Bahagia, dan gigih mengupayakan kesatuan yang Engkau dambakan. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


sumber: imankatolik.or.id

Hari Ketujuh

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Tuesday, November 27, 2012 | 3:00 AM

(Hari Ketujuh) Orang-orang Kristiani Menghadapi Pluralitas Agama “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
Yes. 25:6-9:                 Inilah Tuhan yang kita nanti-nantikan.
Mzm. 117:1-2:             Pujilah Tuhan, hai segala bangsa!
Rom. 2:12-16:              Orang yang melakukan hukum Taurat akan dibenarkan.
Mrk. 7:24-30:              Dengan mengatakan ini, kamu dapat pulang ke rumah dengan hati bahagia.

Renungan

Hampir setiap hari kita mendengar kekerasan di berbagai belahan dunia antara para penganut iman yang berbeda. Tetapi, kita belajar bahwa Korea merupakan tempat di mana iman yang berbeda-beda – Buddhis, Kristiani, Konfusius – pada umumnya hidup berdampingan dalam damai.
Dalam suatu madah pujian yang agung, Nabi Yesaya berbicara tentang semua air mata yang diseka dan tentang suatu pesta mewah yang dihidangkan bagi segala suku dan bangsa! Pada suatu hari, kata Nabi Yesaya, semua bangsa di bumi akan memuji Allah dan bersuka cita karena keselamatan yang Ia berikan. Tuhan yang mereka nanti-nantikan adalah tuan dari pesta abadi dalam nyanyian pujian Yesaya.

Alkisah, Yesus berjumpa dengan seorang perempuan bukan Yahudi yang meminta Dia menyembuhkan putrinya. Mula-mula Yesus  tidak mau menolong dia, dengan nada sinis. Tetapi perempuan itu tidak menyerah, dengan berkata kurang lebih sebagai berikut: “anjing yang ada di bawah meja pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Yesus menegaskan bahwa sikap perempuan itu merupakan  bagian dari perutusan-Nya kepada orang-orang Yahudi dan juga orang-orang non-Yahudi. Maka Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan janji bahwa putrinya akan sembuh.

Gereja-Gereja sungguh memiliki komitmen kepada dialog untuk mewujudkan kesatuan umat Kristiani. Pada tahun-tahun terakhir ini, dialog juga telah dikembangkan dengan umat yang menganut iman lain, khususnya para  “ahliwaris Kitab” (Yudaisme, Islam). Perjumpaan dengan mereka tidak hanya memberikan pencerahan tetapi juga membantu memajukan sikap hormat dan hubungan baik antar-sesama, dan membangun damai di mana terjadi konflik. Kalau kesaksian Kristiani kita dipadukan dengan keutamaan iman akan Kristus,  maka upaya kita untuk menanggulangi syak-wasangka dan konflik akan semakin efektif. Dan kalau kita dengan penuh perhatian mendengarkan sesama yang beriman lain, kita dapat mempelajari lebih banyak hal tentang betapa lapangnya kasih Allah bagi semua orang, dan betapa luas kerajaan-Nya!

Dialog antar orang-orang Kristiani hendaknya tidak menjurus kepada hilangnya identitas Kristiani tertentu tetapi kepada suka cita karena kita mematuhi doa Yesus agar kita menjadi satu, sebagaimana Ia dan Bapa adalah satu. Kesatuan tidak akan terwujud hari ini atau bahkan besok; tetapi bersama-sama, juga dengan orang-orang yang menganut iman lain, kita berjalan menuju tujuan akhir kita yakni cinta dan keselamatan.

Doa

Tuhan, Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu karena kebijaksanaan yang kami perolah dari Kitab-kitab-Mu. Berilah kami keberanian untuk membuka hati dan pikiran kami kepada sesama umat Kristiani dan bahkan kepada mereka yang menganut iman lain. Berilah kami rahmat untuk mengatasi hambatan-hambatan berupa sikap acuh tak acuh, kecurigaan atau kebencian; dan perlihatkanlah kepada kami hari-hari terakhir, ketika orang-orang Kristiani dapat berjalan bersama menuju pesta abadi, di mana segala air mata akan diseka dan semua perselisihan akan dikalahkan oleh kasih. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.





sumber: imankatolik.or.id

Hari Keenam

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Monday, November 26, 2012 | 3:00 AM

(Hari Keenam) Orang-orang Kristiani Menghadapi Bencana dan Penderitaan “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
2 Raj. 20:1-6:               Ingatlah akan daku, ya Tuhan!
Mzm. 22:1-11:             Mengapa Engkau meninggalkan aku?
Yak. 5:13-15:  Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit.
Mrk. 10:46-52:            Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?

Renungan

Betapa seringnya Yesus berjumpa dengan orang sakit dan berkenan menyembuhkan mereka! Kesadaran akan kemurahan Tuhan kita terhadap orang sakit sangat kuat di kalangan Gereja-Gereja kita yang masih terpecah-belah ini. Orang-orang Kristiani selalu mengikuti teladan Tuhan dengan menyembuhkan orang sakit, membangun rumah sakit, balai pengobatan, mengorganisasi karya-karya pengobatan, dan mempedulikan tidak hanya jiwa tetapi juga tubuh anak-anak Allah.

Ini bukanlah tanggapan yang luar biasa; orang sehat cenderung mengandalkan kesehatannya dan lupa akan mereka yang tidak dapat ambil bagian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat karena sakit atau cacat. Tetapi orang sakit? Mereka barangkali merasa tersingkir dari Allah, dari kehadiran-Nya, dari berkat dan kuasa penyembuhan-Nya.

Iman Hizkia yang sangat kuat menopang dia menanggung penyakitnya. Dalam masa duka cita itu, Hizkia menemukan kata-kata untuk mengenang Allah, sumber rahmatnya. Sungguh, orang-orang yang menderita malah dapat menggunakan kata-kata dari Alkitab untuk meratap dan menggugat Allah: Mengapa Engkau meninggalkan aku? Apabila kita memiliki relasi yang tulus dengan Allah, yang dilandasi dengan  bahasa kesetiaan dan bahasa syukur akan masa-masa yang membahagiakan, maka kita juga akan mampu menciptakan ruang untuk suatu bahasa  yang, kalau perlu, dapat mengungkapkan duka cita, kepedihan atau kemarahan dalam doa.

Orang sakit bukanlah obyek; mereka bukan hanya sasaran perawatan. Sebaliknya, mereka adalah subyek iman; seperti para murid Yesus, mereka harus belajar dari kisah Injil Markus. Para murid ingin secepatnya melanjutkan perjalanan bersama dengan Yesus; mereka tidak peduli akan orang sakit yang ada di pinggir kerumunan orang banyak. Ketika orang sakit itu berteriak, ia dianggap menghambat perjalanan mereka. Kita biasa merawat orang sakit, tetapi tidak begitu biasa mendengarkan teriakan keras mereka; kita bahkan merasa terganggu oleh teriakan itu. Dewasa  ini, barangkali mereka  berteriak untuk mendapatkan obat bagi negara-negara miskin, dan hal ini menyentuh permasalahan paten dan keuntungan. Para murid yang berusaha mencegah orang buta itu agar tidak menghampiri Yesus telah menjadi utusan yang harus menyampaikan jawaban Tuhan yang agak berbeda dan penuh perhatian: Mari, Ia memanggil kamu.

Barulah ketika mengantar orang sakit kepada Yesus para murid mulai memahami apa yang dikehendaki Yesus, yakni: meluangkan waktu untuk berjumpa dengan orang sakit dan berbicara dengan mereka, menanyakan apa yang mereka kehendaki dan mereka butuhkan. Suatu komunitas-penyembuh hanya dapat berkembang kalau orang-orang sakit sungguh mengalami kehadiran Allah lewat hubungan timbal balik dengan para saudari dan saudara mereka dalam Kristus.

Doa

Ya Allah, dengarkanlah umat-Mu ketika mereka berseru kepada-Mu dalam kesakitan dan kepedihan. Semoga orang-orang yang sehat selalu mensyukuri kesehatannya, dan melayani orang-orang sakit dengan tangan terbuka dan hati penuh kasih. Ya Allah, perkenankanlah kami semua hidup dalam rahmat dan penyelenggaraan-Mu, menjadi komunitas penyembuh yang sejati, yang bersama-sama memuliakan nama-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


sumber: imankatolik.or.id

St. Yohanes Berchmans

Orang kudus dari Belgia ini pernah mengatakan, “Jika aku tidak menjadi kudus ketika aku masih muda, maka aku tidak akan pernah menjadi kudus.” Sesungguhnya, Yohanes meninggal pada usia muda, yaitu duapuluh dua tahun dan, tanpa perlu diragukan lagi, ia telah berhasil mencapai harapannya untuk menjadi kudus.

Yohanes dilahirkan pada tahun 1599. Sebagai seorang anak, ia amat dekat dengan ibunya yang sakit. Namun demikian, ia suka juga bergabung dengan teman-teman sebayanya untuk memainkan kisah-kisah yang diambil dari Kitab Suci. Ia terutama amat pintar memainkan adegan Daniel membela Susana yang tidak berdosa. Ketika usianya tigabelas tahun, Yohanes ingin bersekolah untuk menjadi imam. Tetapi, ayahnya -seorang tukang sepatu-, membutuhkan bantuannya untuk ikut menunjang keluarga. Pada akhirnya, Bapak Berchmans memutuskan untuk memperbolehkan Yohanes menjadi pesuruh di pastoran. Dari sana ia dapat langsung pergi mengikuti pelajaran di seminari.

Tiga tahun kemudian, Yohanes Berchmans bergabung dengan Serikat Yesus. Ia berdoa, belajar dengan tekun dan dengan bersemangat memainkan peran-peran dalam drama religius. Ia mempunyai semboyan: “Berilah perhatian besar pada hal-hal kecil,” dan semboyannya itu ia pegang teguh. Semasa hidupnya, St. Yohanes Berchmans tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan besar yang mengagumkan. Tetapi, ia melakukan semua pekerjaan-pekerjaan kecil dengan baik, mulai dari melayani makan hingga menyalin catatan pelajarannya.

Ketika ia jatuh sakit, tidak ada dokter yang dapat menemukan penyakit yang dideritanya. Yohanes tahu bahwa ia akan segera meninggal. Tetapi, ia tetap riang gembira seperti sediakala. Ketika dokter memerintahkan agar keningnya dikompres dengan anggur, Yohanes berkelakar: “Wah, untung saja penyakit yang begitu mahal ini tidak akan berlangsung lama.”

Yohanes Berchmans wafat pada tahun 1621. Mukjizat-mukjizat terjadi pada saat pemakamannya. Segera saja orang mulai menyebutnya santo.

“Berilah perhatian besar pada hal-hal kecil.”

Hari Kelima

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Sunday, November 25, 2012 | 3:00 AM

(Hari Kelima) Orang-orang Kristiani Menghadapi Diskriminasi dan Kecurigaan Sosial “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
Yes. 58:6-12:               Jangan menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.
Mzm. 133: 133:1          Alangkah baik dan indahnya, apabila saudara-saudara hidup bersama dengan rukun.
Gal. 3:26-29:                Kamu semua satu di dalam Kristus Yesus.
Luk. 18:9-14:               Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar.

Renungan

Pada awal mula, umat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah itu bersatu padu dalam tangan Allah. Tetapi, dosa menyusup ke dalam hati laki-laki dan perempuan, dan sejak itu kita membangun segala macam syak-wasangka. Diskriminasi pun dapat terjadi hanya karena perbedaan suku atau identitas etnik, karena perbedaan identitas seksual atau karena kenyataan sebagai laki-laki dan perempuan. Di tempat-tempat lain, syak-wasangka dan diskriminasi bahkan telah melekat pada agama tertentu dan melumpuhkannya, dan hal ini menjadi alasan untuk menutup diri. Semua faktor diskriminatif ini sungguh melecehkan manusia dan menjadi sumber konflik serta penderitaan yang amat besar.

Dalam pelayanan-Nya di bumi, Yesus menunjukkan diri sebagai orang yang sangat peduli terhadap martabat laki-laki dan perempuan. Ia terus-menerus menolak segala bentuk diskriminasi; Ia juga  menolak kesombongan yang dimiliki oleh sejumlah rekan sezaman-Nya atas dasar sikap-sikap yang diskriminatif. Orang yang adil tidak selalu sama dengan yang kita bayangkan. Pelecehan tidak memiliki tempat dalam hati orang-orang beriman.

Mazmur 133 membandingkan suka cita yang dihayati oleh saudara dan saudari dengan indahnya minyak yang berharga atau segarnya embun yang turun dari Gunung Hermon. Kita diberi karunia untuk merasakan suka cita seperti itu setiap kali kita menyingkirkan prasangka kelompok dalam himpunan-himpunan ekumenis.

Pemulihan kesatuan seluruh umat manusia merupakan tugas perutusan semua orang Kristiani. Bersama-sama, mereka harus berjuang melawan segala bentuk diskriminasi. Pemulihan itu juga merupakan harapan bersama sebab kita semua satu di dalam Kristus, dan di sini tidak ada lagi Yahudi atau Yunani, budak atau orang merdeka, laki-laki  atau perempuan.

Doa

Ya Tuhan, tolonglah kami menyadari diskriminasi dan pengucilan yang merusak masyarakat. Arahkanlah pandangan kami dan bantulah kami menyadari prasangka-prasangka yang tersembunyi di dalam diri kami. Ajarlah kami memusnahkan segala bentuk pelecehan, dan ajarlah kami merasakan betapa senangnya hidup bersama dalam kesatuan. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin.


sumber; imankatolik.or.id

St. Katarina dari Alexandria

Katarina hidup pada masa Gereja Perdana. Ia adalah puteri dari pasangan kafir yang kaya di Alexandria, Mesir. Ia seorang gadis yang cantik jelita dengan minat belajar yang mengagumkan. Katarina suka sekali mempelajari pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang filsafat dan agama. Suatu hari, ia mulai membaca tentang agama Kristen. Tak lama kemudian ia sudah menjadi seorang Kristen.

St. Katarina baru berusia delapanbelas tahun ketika Kaisar Maxentius mulai melakukan penganiayaan terhadap umat Kristen. Tanpa gentar sedikit pun, gadis Kristen yang cantik ini menghadap raja untuk mengatakan pendapatnya tentang perbuatan raja yang kejam. Ketika raja berbicara tentang berhala-berhala, Katarina dengan gamblang menunjukkan kepadanya bahwa berhala-berhala itu adalah bohong. Maxentius tidak dapat membantah penjelasan Katarina. Oleh karenanya, ia memerintahkan agar dipanggil limapuluh orang ahli fisafat kafir yang terbaik. Sekali lagi, Katarinalah yang berhasil membuktikan kebenaran agamanya. Kelimapuluh ahli filsafat itu menjadi yakin bahwa Katarina benar. Karena amat murka, Maxentius membunuh semua ahli filsafat itu. Kemudian, raja mencoba membujuk Katarina dengan menjanjikan mahkota ratu baginya. Ketika Katarina dengan tegas menolak, ia memerintahkan agar Katarina disesah dan dijebloskan ke dalam penjara.

Ketika Maxentius pergi, isterinya dan seorang pejabat istana amat penasaran. Mereka ingin mendengar gadis Kristen yang menakjubkan ini berbicara. Maka mereka mendatangi Katarina di penjara. Akibatnya adalah mereka beserta duaratus pasukan pengawal bertobat. Karena itu, mereka semuanya dijatuhi hukuman mati. Katarina sendiri hendak digilas dengan sebuah roda penuh duri besar dan disiksa hingga tewas. Ketika roda mulai berputar, secara misterius roda terbelah menjadi dua dan hancur berantakan. Pada akhirnya, St. Katarina dihukum penggal. St. Katarina adalah pelindung para ahli filsafat Kristen. 

Bagaimana jika semua orang Kristen berpegang teguh pada Kebenaran seperti yang telah diteladankan oleh Katarina? 

Hari Keempat

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Saturday, November 24, 2012 | 3:00 AM


(Hari Keempat) Orang-orang Kristiani Menghadapi Krisis Ekologi “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
Kej. 1:31-2:3:  Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik.
Mzm. 148:1-5:  Ia memberi perintah, maka semuanya tercipta.
Rm. 8:18-23:     Penghancuran ciptaan.
Mat. 13:31-32:  Yang paling kecil dari segala jenis benih.

Renungan

Allah menciptakan dunia kita ini dengan kebijaksanaan dan cinta; dan ketika menyelesaikan karya agung penciptaan, Allah melihat bahwa semuanya baik adanya.

Tetapi, dewasa ini dunia dihadapkan dengan suatu krisis ekologi yang serius. Bumi menderita karena pemanasan global sebagai akibat dari konsumsi energi yang berlebihan. Dalam empat puluh tahun terakhir, luas area hutan di planet kita ini telah menyusut sekitar 50% sementara padang gurun terus semakin meluas bahkan dengan lebih cepat. Tiga perempat dari makhluk yang hidup di laut sudah musnah. Setiap hari lebih dari 100 spesies kehidupan mati, dan hilangnya keragaman makhluk hidup ini merupakan ancaman yang serius bagi umat manusia sendiri. Bersama Santo Paulus kita dapat menegaskan:  segala makhluk telah diserahkan kepada kuasa kehancuran,  ia mengerang kesakitan seperti orang yang  sakit bersalin.

Kita tidak dapat mengingkari bahwa manusia memikul tanggung jawab yang berat atas hancurnya lingkungan. Ketamakan manusia yang tak terkendali menebarkan bayang-bayang kematian atas seluruh ciptaan.

Bersama-sama, orang-orang Kristiani harus berusaha sebaik-baiknya untuk menyelamatkan alam ciptaan. Menghadapi tugas yang maha raksasa ini, mereka harus memadukan segala  usaha mereka. Hanya bersama-sama mereka dapat menjaga karya Sang Pencipta. Sungguh mustahil orang tidak menangkap tempat sentral yang diduduki oleh unsur-unsur alam dalam perumpamaan dan ajaran Yesus. Kristus menunjukkan hormat yang besar bahkan kepada benih yang paling kecil dari segala benih. Dengan mengacu kepada visi biblis mengenai ciptaan, orang-orang Kristiani dapat sehati sesuara memberikan sumbangan kepada masa depan planet kita yang hari ini kita renungkan.

Doa

Allah, Pencipta kami, dunia telah Kauciptakan dengan Sabda-Mu dan Engkau melihat bahwa dunia yang Kauciptakan itu sungguh baik adanya. Tetapi dewasa ini kami sedang menyebarkan kematian dan menghancurkan lingkungan. Bantulah kami agar dapat menyesali ketamakan kami; bantulah kami merawat semua yang telah Kauciptakan. Bersama-sama, kami ingin menjaga ciptaan-Mu. Demi Kristus, pengantara kami. Amin.

sumber: imankatolik.or.id
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Paroki St. Laurentius Bandung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger