Kominfo News :
Selamat Ulang Tahun Ke-31 Paroki St. Laurentius Bandung

Artikel Minggu ini

Iklan Paroki
Showing posts with label SUMMA. Show all posts
Showing posts with label SUMMA. Show all posts

Pelantikan Anggota DPP 2012-2015

Written By Unknown on Sunday, October 7, 2012 | 8:41 PM


Euforia perayaan Ulang Tahun Pelindung Paroki St. Laurentius masih terasa. Suasana perayaan dan dekorasi yang menghiasi Gedung Gereja pada malam sebelumnya pun masih hangat terasa. Demikian juga suasana pada Misa pukul 09.30 tersebut.


Puluhan Bapak, Ibu, Saudara, dan Saudari berpakaian Batik terlihat memenuhi dua baris tengah bangku-bangku gereja. Mereka yang hadir pada Minggu, 12 Agustus tersebut merupakan para Calon Anggota Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Laurentius. Masih ingat kan, pemilihan umum bagi para pengurus DPP yang sempat diadakan selama 6 bulan belakangan ini? Mereka yang duduk berpakaian batik pada Misa yang dipimpin oleh Vikaris Jenderal (Vikjen), Rm. Paulus Wirasmohadi Soerjo dan Pst. Alfons Bogaartz, OSC sebagai Imam konselebran ini adalah orang-orang yang dipercaya untuk menduduki berbagai jabatan baik sebagai Sekretaris DPP, Bendahara DPP, Ketua Bidang, Ketua Seksi, Ketua Sub Seksi, Ketua Wilayah, dan Ketua Lingkungan di Paroki St. Laurentius.


Dalam Misa yang penuh sesak dihadiri umat yang hadir siang itu, para Calon Anggota DPP ini diminta untuk menyatakan kesanggupan mereka dalam menunaikan tugas perutusan sebagai Pengurus DPP St. Laurentius Masa Bakti 2012-2015. Dengan disaksikan umat, serentak mereka pun mengucapkan janji atas nama masing-masing untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh tugas sebagai Pengurus DPP Paroki St. Laurentius; melaksanakan tugas-tugas dengan memperhatikan kepentingan pelayanan; Melayani kebutuhan DPP Paroki St. Laurentius dengan setulus hati dan setia sesuai bimbingan Roh Kudus; serta mau dan rela menjalankan kehidupan pribadi sesuai Kitab Suci, Tradisi, dan Ajaran Gereja.


Romo Didiek, sapaan akrab Vikaris Jenderal pun memberi ucapan selamat bagi para terlantik ini. Beliau juga mengucapkan Terima Kasih atas kesediaan Suami/Istri/Orang Tua para terlantik yang memperbolehkan mereka untuk duduk sebagai anggota DPP Paroki St. Laurentius.


Sebuah sesi foto bersama pun menjadi penutup misa yang berakhir pada pukul 12.00 ini. Meski demikian, sebagai ucapan syukur atas dilantiknya para Anggota DPP ini, sebuah jamuan pun sudah disiapkan di R. Christa bagi mereka. (MR)

St. Laurentius Chamber Orchestra 7th Anniversary Concert!

Oleh: Katarina Ningrum

Setelah berdiri secara resmi sejak 2005, St. Laurentius Chamber Orchestra, dikenal sebagai SLCO, akhirnya berkesempatan untuk mengadakan sebuah konser untuk memperingati hari jadinya.

Sejak dua bulan sebelumnya, SLCO yang dipimpin Fauzie Wiriadasastra sebagai konduktor dan peng-aransemen sebagian besar lagu yang mereka bawakan, sudah mulai berlatih setiap hari Minggu.  Memang tidak mudah memainkan beberapa lagu tertentu, mereka tetap gigih demi penampilan terbaik di hari yang ditentukan nanti. 

Kesibukan ditambah lagi oleh persiapan yang sebagian besar dikerjakan oleh anggota SLCO sendiri, mulai dari pembuatan perangkat publikasi semacam spanduk, poster, dan undangan, hingga urusan lampu-lampu serta dekorasi. 

Hingga sabtu, 4 Agustus lalu, usaha mereka ini berbuah manis. Penonton sudah antusias ingin memasuki ruangan, bahkan saat mereka masih sibuk melakukan pemanasan dan menyelaraskan alat musik masing-masing! 

Konser dibuka dengan satu karya ceria dari J.S. Bach, berjudul Gavotte, dengan solois biola, Rachel, yang membawakan melodi utamanya.  Menyusul berikutnya, masih dari komposer yang sama, hadir Anchel, pemain klarinet berumur 11 tahun sebagai solois, menampilkan Sinfonia, lagu bertempo lambat yang elegan.   Untuk menyegarkan suasana, SLCO memberi kejutan berupa satu karya sederhana yang diulik sampai bernuansa  jazz.  Judul lagu itu adalah Long Long Ago, yang biasanya populer dinyanyikan anak-anak di Bina Iman.  Biasanya liriknya demikian: tanda paku di kaki dan tangan/tanda cinta/tanda cinta.  Karena itulah, penampilan ini juga diwakilkan oleh dua gadis kecil, Rena dan Mulan berduet memainkan biola diiringi orkestra yang mendadak nge-jazz itu. Sungguh manis!

Masih dalam suasana meriah, kini giliran Abigail, solois termuda sepanjang sejarah SLCO, membawa biola mungilnya dan mengalunkan Twinkle, Twinkle Little Star dengan lancar, bergantian dengan musik heboh orkestra. Anda tahu berapa usianya? Lima tahun! Ya, lima tahun dan sudah menjadi solois! Disandingkan dengan sang konduktor pun, tingginya hanya setengahnya! Tepuk tangan untuk Abigail sangat meriah, bahkan beberapa orang termangu tak percaya.

Sebagai penutup sesi satu, Minuet in G karya Beethoven dibawakan oleh Bella, salah satu pemain biola yang murni dididik di SLCO. Lagu dinamis ini bergerak cepat, bergantian tempo, lambat, cepat, dan bagian terakhirnya sangat penuh semangat!

Maka beristirahatlah penonton selama lima belas menit. Anggota orkestra pun bersembunyi dan semuanya menyiapkan diri untuk sesi berikutnya.

Babak kedua konser diawali oleh karya Bocherrini, Minuet. Lagu bernuansa tari-tarian yang sedikit centil dan tidak bisa diam. Solois kali ini adalah Ningrum, dengan viola alias biola altonya.  Instrumen ini memberikan warna yang sedikit berbeda dari biola sopran yang disebut violin.  Suaranya lebih dalam dan melankolis, namun bisa dibuat lebih ceria saat mencapai nada-nada tinggi. Setelah itu, salah satu cellist SLCO yang akrab dipanggil Mas Toto oleh semuanya, maju ke depan mengusung musik yang mendayu-dayu dari Schubert, berjudul Serenade. Lagu tersebut sukses menghanyutkan perasaan penonton dan pemain orkestra sendiri.  Lekuk-lekuk nadanya begitu miris! Agar penonton tidak larut dalam kesedihan, Jessi, pemain flute, mempersembahkan Allegro karya Bach.  Manis dan ringan, itulah kesan yang tertangkap.  Iringan orkestranya pun lincah.  Saat lagu ceria selesai, mood kembali diseret oleh Moonlight Sonata milik Beethoven yang biasanya dimainkan di atas piano.  

Bukannya piano, SLCO malah mengutus Adrie, pemegang kontrabas, untuk membawakan melodinya. Alhasil, nuansa menjadi gloomy, agak menakutkan, tetapi megah dan unik dengan nada-nada bas yang rendah.  Sebelum karya terakhir dikeluarkan, tiba-tiba sang konduktor meminjam mikrofon MC Syarif Maulana dan mengatakan satu hal yang lumayan mengagetkan.  Bahwa solois berikutnya, Brigitta, pemain biola yang juga merangkap sebagai concert mistress, sepulang gladiresik kemarin mengalami kecelakaan motor dan tangannya memar dan luka-luka. Penonton pun menjadi penasaran, seperti apa Brigitta akan membawakan lagu terakhir konser ini, Passacaglia karya Handel?  Apakah dengan tangan yang sebetulnya masih sakit, dia akan sukses? Lagu dimulai, dan selama beberapa menit yang panjang, lagu yang berubah-ubah tempo, nuansa, dan semakin ke belakang semakin rumit itu pun berhasil dimainkan oleh Brigitta, tanpa cela apapun. Penghujung lagu yang meTepuk tangan pun menggelegar di Graha Prakasita.  Itulah sebuah kegigihan yang luar biasa milik anggota SLCO! 


Bubarlah sudah konser tersebut, konduktor Fauzie Wiriadisastra pun masuk ke belakang panggung, tetapi para pemain belum bergegas karena tak ada aba-aba, dan penonton masih bertepuk tangan tiada henti.  Bahkan mereka sepertinya belum puas dengan delapan lagu barusan. Rupanya konduktor pun kembali dan menghormat lagi.  Pemain terlihat bingung. Akhirnya konduktor pun menjelaskan bahwa mereka akan memberikan satu lagu lagi. Kali ini berjudul Molly on The Shore, karya Percy Grainger. Sebuah lagu yang ritmikal dan menyenangkan, dan nampaknya menyibukkan beberapa pemain karena kecepatan temponya. Tepat sedetik sesudah not terakhir, konfeti diledakkan dan beterbanganlah kertas warna-warni menaburi semua pemain orkestra. Tepuk tangan dan sorakan masih berlanjut. Lantas kejutan satu lagi diberikan: buket bunga untuk Fauzie selaku pemimpin SLCO, Brigitta sebagai concert mistress, dan semua solois mendapat setangkai bunga mawar. 

Perayaan Meriah St.Laurentius

Dari namanya juga sudah jelas: Paroki St. Laurentius. Jadi sudah pasti pelindungnya adalah Diakon dan Martir, St. Laurentius. Meski Hari Raya St. Laurentius jatuh pada tanggal 10 Agustus, namun umat Paroki St. Laurentius merayakan Hari Raya ini pada Sabtu, 11 Agustus lalu.

Sebuah Misa Syukur sudah disiapkan untuk merayakan hari istimewa ini. Pastor Alfons Bogaartz, OSC; Pst. Yulius Hirnawan, OSC; Pst. Hadrianus Tedjoworo, OSC; dan Pst. Charles Loyak Deket, OSC berkenan memimpin misa yang berlangsung pada pukul 17.00 tersebut. Warna merah, warna khusus perayaan martir mendominasi dekorasi gereja sore itu. Sebuah jambangan bunga diletakkan di atas sebuah panggangan mendominasi altar sore itu. Ini untuk melambangkan St. Laurentius yang mati sebagai martir dengan dipanggang oleh Tentara Romawi. Lagu pembukaan yang dibawakan oleh koor gabungan dari Alumni Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) dan St. Caecilia terdengar gegap gempita diiringi St. Laurent Chamber Orchestra (SLCO).

Setelan batik dan warna-warni cerah khas pesta memenuhi bangku umat. Gereja memang tidak penuh sesak, namun suasana perayaan tetap kental terasa. Apalagi ditambah dengan berbagai lagu bernuansa gembira yang cukup umum dikenal umat. Sehingga umat pun dapat turut serta bernyanyi memeriahkan perayaan ini.

Bacaan yang dibawakan dalam Misa Perayaan ini membawa pesan mendalam, “Sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”. Pemberian sekecil apapun jika diberikan dengan sukacita dan penuh kerelaan selalu akan punya tempat tersendiri di sisi-Nya. Hal ini berhubungan sangat erat dengan Bacaan Injil sore itu yang mekumandangkan kerelaan biji, “ … jika biji tidak mati ia tetap satu saja, tapi jika ia mati menghasilkan buah limpah." 


Karena ini adalah perayaan St.Laurentius, tentu kita pun butuh lebih mengenal pelindung Gereja kita ini. Hal paling menonjol dari St.Laurentius adalah cintanya pada Yesus. St.Laurentius meletakan Yesus di posisi paling atas, paling pertama di hidupnya. Hal ini kemudian dibuktikan dengan menjadi martir karena membela apa yang ia imani.

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah cinta kita pada Yesus jua telah kita posisikan di tempat teratas? Apakah kita mampu tersenyum dengan penuh kerelaan dalam meneladani sikap Yesus? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak untuk dijawab langsung melainkan untuk direnungkan lebih dalam lagi.

Lagu “St. Laurentius, Pelindung Gereja” pun berkumandang gempita mengakhiri perayaan Ekaristi sore itu. Namun perayaan ini masih berlanjut, usai Misa istimewa ini semua umat diundang untuk mengikuti Perayaan “From Laurent with Love” yang telah disiapkan oleh Seksi Orang Muda Katolik (OMK) St. Laurentius. (IVY)

3 Tahun Paduan Suara St. Geovani

Oleh Thomas W. (Kontributor/Lingkungan 6)

Paduan Suara “St. Geovani”, merupakan Paduan Suara Lingkungan St. Yohanes (Lingkungan 6). Paduan Suara Lingkungan yang berada dalam Wilayah 2 ini, pada 29 Juni lalu merayakan Ulang tahunnya yang ke-3. Karena itu, sebuah perayaan pun telah disiapkan oleh para pengurus lingkungan St. Yohanes ini.



Paduan Suara St. Geovani sendiri berdiri atas gagasan Bapak Yohanes Pamudji, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Wilayah 2. Saat itu, Ibu Inneke Herawati ditunjuk sebagai Koordinator Paduan Suara dan dilatih oleh Bpk. Hieronimus Dju Ha. Sambutan positif pun diberikan oleh umat lingkungan St. Yohanes tersebut.

Dalam perjalan selama 3 tahun, meski masih belum sempurna dan belum mahir menyanyi, Paduan Suara St. Geovani pernah ikut serta dalam Lomba Koor di Paroki dan mengisi sebagai Koor Pernikahan di Gereja St. Laurentius. Sementara itu, Koor ini pun setiap bulan aktif mengisi dalam Koor Misa Sabtu Sore.

Anggota Paduan Suara St. Geovani saat ini tidak sepenuhnya dari umat Lingkungan 6, ada juga umat dari lingkungan lain yang tertarik membantu melayani. Semoga keberadaan Paduan Suara St. Geovani dalam keterlibatan di Gereja untuk menyumbangkan suara emas menyanyikan kidung-kidung surgawi diterima baik oleh umat.

From Laurent With Love

Kwartet Pastor
Pastor Yulius Hirnawan, OSC berharap agar benih-benih panggilan dapat tertanam dan tumbuh subur di Paroki St. Laurentius. Pastor Hadrianus Tedjoworo, OSC berharap agar ada lebih banyak anak-anak muda asli Paroki St. Laurentius yang mau terlibat dalam kegiatan di Paroki St. Laurentius. Pastor Alfons Bogaartz, OSC berharap agar Paroki St. Laurentius masih akan merayakan 31 tahun lagi Hari Jadinya. Sementara itu, Pst. Charles Loyak Deket, OSC merasa sudah mulai kerasan dan akrab dengan umat Paroki St. Laurentius.

Demikian tanggapan “Kwartet Pastor” saat ditanya seputar harapan mereka untuk Paroki St. Laurentius. Harapan yang tidak berlebihan, mengingat masih mudanya usia Paroki kita dibandingkan berbagai Paroki yang ada di seluruh Keuskupan Bandung. Masih begitu banyak hal yang dapat dicapai, dan sudah begitu banyak pencapaian yang diraih dalam usia nya yang masih muda tersebut. Karena itu, pantaslah bila “From Laurent with Love” menjadi tajuk bagi acara yang berlangsung pada Sabtu 12 Agustus lalu, usai Misa Syukur Perayaan St. Laurentius. Semua acara yang diadakan malam itu, diadakan bagi Umat Paroki St. Laurentius dengan penuh cinta.

Jadi tidak heran, bila lapangan parkir di halaman belakang Paroki St. Laurentius sudah dipadati umat yang ingin melihat rangkaian acara yang sudah disiapkan panitia dari Seksi Orang Muda Katolik (OMK) St. Laurentius tersebut. Berbagai pertunjukan sudah disiapkan dalam perayaan kali ini: Acapela yang dibawakan oleh Paduan Suara Mahasiswa UNPAR; Tari dari Tanah Toraja yang dibawakan oleh Kelompok Tari Listra; Lagu-lagu dari Saint Laurent Children Choir (SLCC); Orchestra dari Saint Laurent Chamber Orchestra (SLCO); Band Bina Iman Remaja (BIR); dan Band Misdinar. Penampilan para pengisi acara malam itu sungguh meriah.

Selain para pengisi acara ini, di seputar panggung terdapat berbagai booth masakan dari 8 wilayah yang ada di Paroki St. Laurentius. Masing-masing Wilayah menyediakan satu masakan khas Nusantara: Masakan Bali, Manado, Semarang, Padang adalah beberapa di antaranya. Dan bagi ratusan umat yang hadir malam itu, dibagikan kupon berisi nama salah satu masakan khas Nusantara tersebut. Wah, pas banget nih, apalagi waktu pun sudah menunjukkan waktu makan malam. Tapi, kehadiran 8 booth makanan ini bukan hanya sebagai penyedia makan malam. Setiap masakan yang mereka buat malam itu, nantinya akan dinilai oleh para juri yang berasal dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI); dan Chef Bambang Darmawan.

Satu demi satu rangkaian acara malam itu berjalan dengan baik, berkat kepiawaian Intan dan Mayang, MC malam itu. Pengumuman pemenang lomba masakan khas Nusantara dan pemenang pertandingan tenis meja yang berlangsung satu bulan sebelumnya pun turut diumumkan. Dan ternyata, semua Wilayah yang turut serta dalam lomba Masakan Daerah malam itu, memenangkan satu kategori tertentu. Waaaaahhhh… selamaaaaaaattttt!!!!
Panitia
Tapi, itu bukan puncak acaranya. Karena “Kwartet Pastor” yang sebelumnya memotong kue Ulang Tahun, didaulat untuk hadir di Panggung. Mereka diminta untuk menyanyi! Hehehe.. kali ini, mereka tidak menyanyikan lagu misa, kok. Bergaya ala boy band dengan topi gaul bergambar lambang Ordo Salib Suci, mereka menyamyikan lagu “You Raise Me Up”. Lagu yang pernah dibawakan oleh Josh Groban ini mengalun merdu memenuhi pelataran parkir malam itu. Tepuk tangan meriah pun membahana. Namun rupanya bukan hanya lagu tersebut, topi-topi yang menutup kepala “Kwartet Pastor” ini kemudian diputar ke belakang. Alunan gitar ceria pun terdengar, sebuah lagu jenaka pun dinyanyikan. Lagu dengan lirik “menyentil” ini bercerita tentang suka duka “Kwartet Pastor” sebagai Pastor di Paroki St. Laurentius. Gelak tawa umat pun terdengar sambil mengiringi nyanyian “Kwartet Pastor” tersebut.

Dengan berakhirnya lagu persembahan “Kwartet Pastor” tersebut, usai sudah Perayaan Santo Laurentius ini. Syukur Puji Tuhan, atas 31 Tahun yang boleh dijalani dalam berbagai suka dan duka. (MR)

Ziarah Rohani – Cigugur Kuningan

Written By Unknown on Wednesday, September 5, 2012 | 10:20 PM





Oleh: Eka Pudjapriyatna 

(Lingkungan 17, St. Thomas)

Di penghujung kepengurusan periode 2009 – 2012, Lingkungan 17 St. Thomas Sarijadi mengadakan ziarah ke Gua Maria Cigugur Kuningan. Kegiatan yang sudah lama ditunggu-tunggu ini akhirnya terwujud juga. Selain diikuti oleh warga Lingkungan 17, perjalanan batin ini juga diikuti oleh umat di luar Lingkungan dalam Wilayah VI Sarijadi, sehingga lebih meriah dan kebersamaan sebagai keluarga besar sungguh dirasakan. Selain untuk meningkatkan keimanan terhadap Tuhan melalui devosi kepada Bunda Maria, kegiatan ini juga untuk refreshing dan sebagai ajang silaturahmi antar umat Lingkungan, khususnya bagi yang jarang bertemu.

Minggu, 01 Juli yang sejuk dingin, dengan menggunakan 2 buah bus kecil, lebih dari 50 umat yang terdiri atas anak-anak, orang muda, bapak-ibu, dan opa-oma, berangkat menunju Kuningan. Perjalanan yang mengasyikkan, karena bisa melihat pemandangan di luar kota yang indah dan sejuk segar. Meski berjalan dengan kecepatan rendah, akhirnya rombongan ini tiba di Cigugur pada pukul 11.00. Setelah rehat sejenak, kami langsung melakukan jalan salib, dipimpin oleh Bpk. Robert Suryatno.

Perjalanan terjal pun kami mulai. Perhentian demi perhentian kami lalui dengan perlahan dan pasti. Suasana sepi, udara yang sejuk, serta suara angin yang menggesekkan dahan dan dedaunan menambah kekhusukan kami dalam berdoa dan mengenangkan sengsara Tuhan Yesus.
(Terimakasih Tuhan, Engkau telah membuat alam yang indah dan segar ini untuk kami nikmati. Ampuni kami jika seringkali kami merusak alam ciptaanMu).

Meskipun perjalanan di bukit yang cukup panjang dan terjal, namun tidak begitu terasa melelahkan karena kami memperoleh kekuatan dari Sang Pencipta beserta alam ciptaanNya. 

Setelah jalan salib, kami pun mengadakan Misa Syukur yang dipimpin oleh Romo Markus Handi. Sungguh merupakan ziarah yang sempurna karena kami pun masih menikmati santapan rohani.  Seperti yang sudah diduga, setelah misa selesai kami semua tidak sabar untuk foto bersama (narcis.com). Wajah-wajah yang memancarkan keceriaan menunjukkan bahwa kami menikmati perjalanan batin ini.

Selesai misa dan foto bersama, kami menuruni bukit sambil mampir di warung-warung yang menjajakan berbagai makanan khas Kuningan. Kegembiraan dan kelegaan pun nampak di wajah para peserta.

Perut mulai terasa lapar, dan kami segera kembali ke bus dan selanjutnya ke tempat Gereja bawah. Di sana santapan jasmani yang kami butuhkan sudah menunggu untuk dinikmati. Perjamuan makan bersama semakin menambah kebersamaan dan keakraban kami. (Terimakasih Bapa, Engkau sungguh baik. Di saat kami lapar Engkau telah siapkan makanan bagi kami. Berkatilah juga saudara-saudara yang telah menyiapkannya).

Akhirnya, waktu jualah yang memaksa kami untuk segera meninggalkan Kuningan dan harus kembali ke Bandung. Wajah-wajah yang lelah pun tak bisa disembunyikan lagi, maka di sepanjang perjalanan tidak banyak suara. Sampai di Bandung sekitar pukul 22.00. Perjalanan yang cukup panjang memang, namun kami bangga, kami bahagia.

Beberapa manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini adalah:
•   Bisa mengenangkan sengsara Tuhan Yesus, yang diharapkan bisa meningkatkan keimanan umat.
•   Rasa persaudaraan lebih meningkat.
•   Lebih bisa mengenal satu sama lain bagi umat yang jarang bertemu.
•  Memberikan pengalaman baru. Ternyata banyak yang belum pernah ke gua Maria Cigugur ini,   termasuk yang menulis artikel ini.
•  Memberi semangat baru dalam melayani satu sama lain, baik sebagai pengurus lingkungan maupun yang tidak.

Sampai ketemu kembali di perjalanan yang berikutnya, dengan pengurus Lingkungan yang baru yang dipimpin oleh Bapak Tri Susanto, pasti lebih seru!

Damai-Mu, Damaiku dalam Ekaristi

Oleh: Emmy Pouw 
(Paguyuban Hanna Simeon)

Tujuh puluh orang Senior/wati dengan tas masing-masing terlihat berkumpul di halaman Gereja. Mereka berkumpul pada Jumat, 29 Juni lalu ditemani oleh sebuah bus besar yang parkir dihalaman. Mau kemana gerangan para Senior/wati  St. Laurentius ini? Ternyaaataaa.... mereka akan Rekoleksi di Wisma Pratista, Lembang.

Selama 2 hari dan 1 malam nanti, para senior/wati yang tergabung dalam Kelompok Kategorial Paguyuban Hanna Simeon (KK-PHS) ini akan mengikuti rekoleksi dengan tema “Damai-Mu, Damaiku, dalam Ekaristi”. Dan karena saat itu sedang holiday season, minta ampuuuun jalan menuju Wisma Pratista macet luar biasa. Tetapi Syukur Puji Tuhan, akhirnya sampai juga,satu bus dan beberapa mobil pribadi. Rombongan ini pun disambut oleh Tim Rekoleksi Pratista yang tediri atas seorang Pastor sepuh, siapa lagi kalau bukan Pst. Anton Rutten OSC; yang ditemani oleh Pst. Nana Sujana, OSC; Pst. Aaron Wawuru, OSC dan Fr. Felix, OSC.


Menurut Pst. Nana, OSC baru kali ini beliau melihat peserta rekoleksi yang terdiri atas para sepuh sebanyak ini. Karena itu Ibu M.M. Purwaningsih, yang akrab disapa Mbak Pur, selaku Ketua PHS  di wawancarai oleh Majalah Komunikasi, untuk dimuat dalam Edisi Agustus. Ini karena Tema Majalah Komunikasi pada Agustus nanti adalah seputar Lansia katanya. Usia para peserta yang ikut dalam rekoleksi ini rata-rata berusia di atas 70 tahun: ada yang 80 tahun, bahkan ada seorang ibu berusia 99 tahun. Bayangkan usianya hampir satu abad!!! Hebat bukan? Ibu ini mengikuti setiap sessi dengan sungguh-sungguh. Tak terlihat wajah ngantuk atau lelah sama sekali.

Dalam Sesi yang diberikan, Pst. Nana, OSC berpesan: Jangan pernah sia-siakan hidup, karena hidup itu selalu ada gunanya. Jangan pernah berkata: "Saya sudah tua, sudah tak ada gunanya". Kita juga harus selalu mencintai bahkan musuhpun harus kita cintai. Itulah seruan Yesus kepada kita.

Pst. Aaron membahas tentang Ekaristi. Salah satu keprihatinan yang kita lihat adalah masih sempatnya orang-orang melakukan kegiatan lain (ngobrol, ber-SMS ria, dll), padahal sedang mengikuti perayaan Ekaristi. Juga ketika memasuki gereja, mencelupkan jari ke dalam air suci sambil ngobrol dan membuat tanda salib asal-asalan saja. Juga lupa memberi hormat (dengan berlutut) pada Yesus yang bersemayam dalam Tabernakel, langsung saja duduk. Mengikuti perayaan Ekaristi berarti bertemu dengan Yesus, sang sumber Damai, jadi ini adalah sebuah pertemuan yang penting. Maka janganlah melakukan hal-hal lain. Berkonsentrasilah agar kita betul-betul merasakan kehadiran Yesus dan merasakan kedamaiannya. Kalau kita mengikuti perayaan Ekaristi dengan sungguh-sungguh, dengan penuh konsentrasi, maka kita akan mengalami buah-buah Ekaristi, yaitu perasaan tenang ,mencintai,memaafkan, suka cita, damai dan kita mengalami Iman.

Pst. Aaron juga membahas tentang membuat tanda salib. Mulai dari atas (pada dahi) turun ke bawah sampai melewati dada lalu ke bahu sebelah kiri kemudian ke kanan. Itu mempunyai makna : Berasal dari Allah Bapa, turun ke dunia (Putra Allah) dan melalui kematian (sebelah kiri) mencapai keselamatan (sebelah kanan). Itulah iman kita.

Frater Felix diminta untuk memimpin Ibadat pagi pada Sabtu, 30 Juni. Dalam ibadat ini, beliau mengajak para sepuh peserta rekoleksi untuk selalu bersyukur atas hidup yang sekarang dan mencari kedamaian dan ketenangan. Sementara itu, Pst. Rutten, OSC mengajak para peserta rekoleksi untuk selalu bersyukur, selalu mendapatkan sesuatu yang menguntungkan (untung cuma mata kiri yang kurang jelas, misalnya; atau untung ini dan itu, dll.) Senang atau tidak senang itu tergantung keputusan kita sendiri masing-masing. Kalau saya putuskan senang, maka senanglah saya. Tuhan selalu memberikan yang baik kepada kita, Ia Maha Baik. Kita lah yang salah, sering kita salah lihat lalu menyalahkan Tuhan. Kita boleh mohon, ceritakan kesusahan kita kepada Tuhan akan tetapi jangan menyuruh Tuhan untuk memberikan kepada kita apa yang kita minta.

Sesi terakhir diberikan oleh Pst. Aaron, OSC yang mengatakan bahwa Yesus merupakan sumber Damai. Bagaimana kita mencari kedamaian? Gunakanlah cara yang lebih akrab dengan Tuhan: dengan membaca kitab suci, dan berdoa. Berdoa setiap saat, di mana saja; tidak usah pada waktu-waktu tertentu, juga tidak hanya di tempat tertentu, tidak perlu menggunakan kata-kata formal, just chat (ngobrol) with Him. Kedamaian kita sering dirusak oleh rasa takut kita pada panggilan kita yang ke-2: "kematian". Panggilan pertama kita sudah kita jalankan yaitu: ada yang dipanggil untuk membangun sebuah keluarga, menjadi biarawan/wati dll.  Kita sekarang sedang menunggu panggilan kita yang ke dua yaitu kematian. Berdoalah, ikuti perayaan Ekaristi untuk bertemu dengan sang Sumber Damai. Berserahlah sambil tetap melakukan kegiatan/aktivitas yang masih bisa kita lakukan. Maka damailah kita wahai para PHS ers. Indah yaa!

Rekoleksi ditutup dengan Misa di Kapel, yang dipersembahkan oleh Pst. Aaron, OSC. Sesudah Misa para peserta menuju ruang makan untuk bersantap siang. Usai makan siang para PHS-ers segera say Sayonara karena peserta-peserta dari rombongan lain sudah menunggu giliran mereka. Tak lupa berfoto bersama dulu dengan latar belakang Pratista tentunya; that's a must!!!  Wah PRATISTA juga lagi Peak Season nih!!!

Sayonara, sampai jumpa!

Berkunjung Ke Posyandu

Written By Unknown on Tuesday, September 4, 2012 | 9:28 PM

Ilustrasi - Sumber: http://humaniababy.co.id
Oleh: C. Tjatur Rini S. 
(Ketua Lingkungan 14)
“…
Berat badanku ditimbang selalu
Posyandu menunggu setiap waktu
…”

Sebagian besar dari anda, tentu tidak mengenal penggalan lagu tersebut. Lagu ini merupakan lagu yang umum dinyanyikan beberapa tahun silam saat pemerintah gencar memasyarakatkan program Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Program yang rutin diadakan setiap bulan ini dimaksudkan untuk memonitor kesehatan anak-anak, khususnya balita. Di pos ini pula, anak-anak tersebut biasanya memperoleh berbagai imunisasi, vitamin dan asupan gizi yang diperlukan dalam masa pertumbuhan mereka. dan meski gaungnya sudah jarang terdengar, namun saat ini, program tersebut masih rutin diadakan.

Melalui kegiatan Posyandu inilah Lingkungan St. Paulus (Lingkungan 14) menunjukkan kepeduliannya. Setiap bulan Lingkungan ini mengadakan kunjungan ke Posyandu yang terletak di Jl. Sarijadi Baru I, Bandung. Karena kegiatan Posyandu saat Puasa dan Lebaran libur, maka menjelang puasa, Posyandu ini mengemas kegiatannya dengan sedikit berbeda. Begitu juga pada, Kamis, 28 Juni lalu. Posyandu ini menyiapkan “menu tambahan”. Lingkungan 14, yang diwakili beberapa orang pengurusnya, ikut berpartisipasi dengan menambahkan makanan sehat dan bergizi bagi 35 anak-anak di Posyandu tersebut. Dan berhubung saat itu bertepatan dengan masa libur sekolah, maka para anak-anak posyandu ini mendapat banyak “pengawalan” dari kakak-kakak mereka. Jadi… makin ramai, suasana dan bingkisannya!

Puji Tuhan! Semua gembira dan menikmati bingkisan yang dibagikan, dan Lingkungan 14 sendiri pun bahagia karena diperkenankan menjadi “perpanjangan tangan” Tuhan Yang Maha Kasih kepada umat-Nya.

Ada yang tertarik ikut peduli ke Posyandu yang ada di sekitar lingkungannya???

Raihlah Cita-Cita: Pelayanan Lintas Batas

Written By Unknown on Saturday, September 1, 2012 | 8:59 PM





Oleh: Pst. Charles Loyak, OSC

(Tulisan sederhana ini secara khusus dipersembahkan bagi seluruh anggota Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Laurentius periode 2012-2015, yang telah dilantik dan diutus oleh Tuhan pada hari Minggu,13 Agustus 2012. Baiklah tulisan kecil ini dibaca juga oleh umat Paroki St. Laurentius yang sudah pasti harus bekerja sama dengan DPP kita yang baru; secara khusus anggota keluarga atau juga sahabat dekat yang sangat diandalkan untuk membesarkan hati dan menguatkan dalam perjalanan karya pelayanan mereka).

Hari-hari “paling istimewa” bagi segenap umat Paroki Laurentius, Keuskupan Bandung di tahun 2012 ini kiranya adalah Jumat, 10 Agustus (Pesta St. Laurentius, diakon dan martir), Sabtu,11 Agustus (Misa Agung Merayakan Pesta St. Lauretius, Pelindung Paroki sekaligus Ulang Tahun Paroki yang ke-31), dan Minggu, 12 Agustus (Misa Pelantikan DPP St. Laurentius). Khususnya di hari Minggu, Vikaris Jenderal, Rm. Paulus Wirasmohadi Soerjo, Pr memimpin langsung Misa Syukur pelantikan tersebut didampingi Pastor Paroki, Alfons Bogaartz, OSC. Anggota DPP St. Laurentius yang baru periode 2012-2015, yang dilantik dan diutus untuk melayani umat St. Laurentius itu berjumlah 96 orang. Acara Serah-Terima Tanggung-jawab sebagai DPP dari yang lama kepada yang baru, dilaksanakan di Aula Paroki, setelah Misa, dilanjutkan dengan makan siang bersama.

Arah Keluar: Melintasi Batas Di acara ‘Pisah-Sambut DPP’ yang lama & baru itu, Pastor A. Bogaartz, sebagai Pastor Paroki mengucapkan terima kasih kepada DPP lama atas bakti pelayanan yang baik selama ini; dan menitip kepada DPP baru suatu pesan pendek namun sangat penting. “Arahkanlah Pelayananmu Keluar, ke Masyarakat Luas”. Selama periode pelayanan yang lalu (2009-2012), demikian tegas Pastor Paroki, arah pelayanan terus-terus ke dalam, untuk kepentingan kita saja. Itu tidak jelek, apalagi berjalan baik dan membawa hasil yang sangat terasa. Tetapi mengukur kemajuan kita ke depan, yang punya “nilai lebih” sebagai suatu Paroki, arah pelayanan kita harusnya keluar, menjangkau masyarakat luas, yang malahan juga mereka yang berbeda agama dan keyakinan dengan kita. 

Pisah-Sambut DPP
Sadar atau tidak, kita cenderung hidup di dalam batas-batas, dan memberi perhatian sejauh batas-batas tersebut juga. Batas-batas yang paling biasa kita kenal dan hidupi ialah: diri kita sendiri, keluarga, lingkungan, wilayah, Paroki, Keuskupan, dan lain-lain. Perhatian, kepedulian dan cinta kita kepada orang-orang lain, sadar atau tidak, hampir selalu ditentukan oleh ‘kepentingan batas-batas’ tertentu itu. Mau memberi atau menyumbang sesuatu (barang, waktu, tenaga, pengetahuan dan lain-lain) kepada orang lain, selalu menghitung (secara otomatis – tanpa sadar) apakah saya sendiri, keluarga, lingkungan, Paroki tidak mempergunakannya? Apa dampak atau untungnya bagi saya atau kami? Pertanyaan-pertanyaan “bawah-sadar” ini selalu muncul karena kita telah memposisikan diri kita, keluarga kita, persekutuan kita menjadi yang terpenting dari pihak-pihak lainnya. Ini nampaknya secara ke dalam baik adanya, namun sebenarnya egoistis. Biar pun atas nama Kristus, persekutuan yang nampaknya eksklusif dan tertutup seperti itu sesungguhnya kurang kristiani sifatnya. Kita, seluruh umat Paroki St. Laurentius sedang dipanggil oleh Tuhan melalui seruan Pastor Paroki, untuk bersama DPP kita yang baru dilantik, guna lebih mengarahkan pelayanan kita bersama “keluar melintasi batas-batas” supaya dapat menjangkau masayarakat yang lebih luas. Kita harus menjadi “garam dan terang” bagi dunia sekitar kita!

Tantangan umum dan utama bagi kita adalah: melawan diri sendiri, lingkungan/persekutuan kita dengan segala kepentingannya sedemikian rupa, sehingga akhirnya yang menjadi terpenting dan prioritas perhatian dan pelayanan, bukan lagi saya atau kelompok saya, tetapi orang lain, pihak lain. ‘Tuhan dan orang lain atau sesama yang terpenting dan terutama’. Itulah suatu prioritas dan kesadaran yang
berasal dari iman!

Berguru pada St. Maria & St. Laurentius
DPP St. Laurentius dalam karya pelayanannya haruslah berguru pada kedua tokoh iman itu, St. Maria dan St. Lauretius. Sebab menjalankan karya pelayanan kepada umat Allah di mana saja, termasuk di Paroki kita ini, bukan pertama-tama dengan mengandalkan kekayaan ‘pengetahuan, ketrampilan dan aneka pengalaman’ saja, tetapi pertama-tama dan terutama adalah kekayaan ‘iman’. Seperti St. Maria dan St. Laurentius sendiri, ketika melayani sesamanya di jamannya, didorong dan digerakkan oleh imannya yang kokoh kepada Tuhan Yesus. Apalagi kedua tokoh iman tersebut, sejauh kita kenal mereka masing-masing, hampir pasti tidak banyak memiliki kekayaan pengetahuan dan ketrampilan khusus. Mereka melayani hanya dengan mengandalkan imannya! Maria adalah satu-satunya orang yang melihat ‘kegalauan  dan kegelisahan hati’ tuan pesta yang kehabisan anggur pada pesta nikah di Kana (Yoh 2:1-11). Iman Marialah yang membuka “mata hatinya” sehingga ia dengan rasa peduli dan penuh sayang bisa melihat ‘kesulitan’ itu, dan bergerak membantu. Belajar dan berguru pada St. Maria, DPP St.Laurentius mesti terus memelihara imannya, agar di atas dasar iman yang sedang dibaharui itu, mereka giat melayani umatnya di lingkungan dan wilayah, atau di bidang dan seksinya masing-masing. Iman demikian itu akan membuka “mata hati” untuk melihat dan menanggapi ‘kesulitan-kesulitan’ yang sedang menantang kehidupan umat Allah. Andaikan saja hati Maria tinggi dan angkuh seperti banyak manusia sejamannya dan juga jaman kini, bisa saja ia telah menjadikan momen heboh mukjizat ‘air jadi anggur’ di pesta nikah itu kesempatan “membesarkan namanya” juga. Tetapi kepada pelayan-pelayan di situ, Maria berkata, “Apa yang Ia katakan kepadamu, lakukanlah itu!” (ayat 5). Maria mengarahkan perhatian para pelayan bukan kepada dirinya, tetapi kepada Yesus, Putera-Nya, yang berkuasa mengerjakan mukjizat itu.

Sama juga dengan St. Laurentius, Pelindung Paroki kita ini. Karena demikian kuat cintanya kepada Yesus, menurut catatan St. Agustinus, maka hidup dan pengorbanannya sungguh-sungguh mengikuti jejak-Nya pula. Bagi St. Laurentius, Yesus menjadi yang paling penting dari pada segala hal lainnya, termasuk dirinya. Iman St. Laurentius sungguh menampakkan kerendahan hatinya oleh karena Yesus. DPP St. Laurentius diharapakan bisa belajar memperkokoh imannya masing-masing pada kedua tokoh ini sebagai “daya kekuatan utama” untuk melayani umat di Paroki ini. Pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman memang dibutuhkan juga untuk menunjang pelayanan itu tetapi bukanlah yang utama. Di jaman yang semakin individualistis ini, kalau tidak mewaspadai diri dengan “mengokohkan iman” sebagai dasar dan motor pelayanan, DPP kita akan semakin jauh dari semangat tokoh panutan, St. Maria dan St.Laurentius. Tanpa sadar mereka mengandalkan kehebatan dirinya, statusnya dan ingin diakui secara berlebihan oleh umatnya.

Melayani Seperti Yesus
Kisah Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus itu menarik dan inspiratif (Bdk 24: 13-32). Mata para murid mulai terbuka dan mengenal Yesus, justeru ketika Dia sedang ‘memecah-mecahkan roti dan membagi-bagikan itu’ kepada mereka semua. Aktivitas yang sangat biasa bagi Yesus dan para murid-Nya. Mengambil, memecah-mecahkan, membagi! Murid-murid sangat merekam hal itu dengan baik dalam ingatan mereka. Maka ketika melihat lagi ‘aktivitas’ itu, murid-murid menjadi teringat kembali ‘kebiasaan’ yang lazim itu. Mereka alami lagi ‘ritus simbolis’ penuh makna, yakni ‘roti yang dibagi-bagi’. Itu sungguh menggambarkan Diri YESUS (tenaga, pikiran, waktu, perhatian dan cinta-Nya) yang selama hidup-Nya memang dibagi-bagikan kepada manusia. Kata-kata Yesus dalam ‘ritus simbolis’ itu sungguh menjadi benar dalam kenyataan hidup-Nya. Bagi Yesus itu, tidak ada jarak antara kata-kata dan sikap hidup-Nya. Kata-kata mulut-Nya selalu membenarkan sikap hidup-Nya, dan sebaliknya, sikap hidup-Nya senantiasa menegaskan apa yang disampaikan kata-kata mulut-Nya. Itulah Dia, Yesus yang dialami oleh para murid-Nya!.

Ujud khusus, yang telah didoakan seluruh umat Paroki pada hari istimewa pelantikan dan perutusan itu, ialah supaya seluruh DPP St. Laurentius dalam tugas pelayanannya boleh semakin menjadi seperti Yesus, yang sanggup melayani dengan membagi-bagi perhatian dan cinta-Nya kepada sesama. Bagai simbol “roti” yang dibagi-bagi,Yesus membagi seluruh diri-Nya kepada umat manusia. Seperti Yesus itulah, biarlah anggota DPP St. Laurentius melayani umat Allah di seluruh Paroki ini.  Dalam doa-doa kita hari ini dan hari-hari seterusnya, baik doa bersama mau pun doa pribadi, marilah kita terus mendoakan ujud khusus ini kepada Tuhan. Berdoa saja tidaklah cukup! Tiga tahun ke depan ini, sambil berdoa, mari ulurkan tangan bekerja-sama dengan DPP kita. Dengan cara demikianlah, Allah akan mendengar dan mengabulkan doa kita dengan ujud khusus itu. St. Agustinus pernah berkata, “Deus creavit me sine, sednon potest salvare me sine me”. Arti hurufiahnya: “Allah telah menciptakan saya tanpa saya, tapi Dia tidak dapat menyelamatkan saya tanpa saya”.  Maksudnya bukanlah Allah tidak berkuasa menyelamatkan saya, tetapi Allah sungguh membutuhkan partisipasi aktif dari pihak saya (tangan, hati, kepedulian, cinta saya) untuk suatu proses penyelamatan bagi diri saya. Allah tidak mau bekerja sendiri! Allah juga tidak mau bekerja sendiri melalui DPP kita untuk menggapai cita-cita di Paroki tercinta ini. Allah mau bekerja bersama seluruh umat-Nya di Paroki ini, yang sambil berdoa dan mengharapkan “buah-buah” sebagai jerih-payah pelayanan bersama-sama. Semakin Beriman Semakin Memasyarakat
       
Enam tahun silam, ketika Paroki ini merayakan pesta peraknya, pada 10 Agustus 2006, tema yang dipakai adalah “Semakin Beriman Semakin Memasyarakat”. Panitia Pesta Perak ketika itu tentu saja mempunyai pendirian tertentu mengenai pemilihan tema ini. Tetapi paling tidak, tema yang satu ini sekaligus menjadi semacam “tonggak refleksi” yang penting dan bermakna: refleksi atas perjalanan pelayanan sejak awal berdirinya Paroki sampai usianya yang ke 25 tahun, dan tahap berikutnya ialah perjalanan pelayanan ke depan sampai usianya yang ke 50 tahun (Pesta Emas).  “Roh dan semangat” dari tema tersebut mestinya tetap menuntun dan mengarahkan pelayanan seluruh petugas pastoral (DPP, Umat, Tim Pastores) menuju pesta Emas itu. Maka sentuhan sekaligus ajakan Pastor Paroki,  Pastor A. Bogaartz, OSC kepada DDP dan juga seluruh umat, supaya mengarahkan pelayanan lebih keluar, ke tengah masyarakat luas, adalah bagian yang tak terpisahkan dari ‘roh dan semangat’ tema yang telah menjadi ‘tonggak refleksi’ kita itu. Selanjutnya tema tersebut juga menjadi tolok ukur bagi kita semua untuk menilai sejauh mana kita sedang mengarahkan pelayanan kita keluar sampai melintasi batas-batas persekutuan kita, dan sejauhmana kita cukup berhasil atau gagal dalam perjuangan tersebut. Baiklah secara berkala dalam evaluasi-evaluasi pastoral, tema penting ini menjadi panduan untuk menilai usaha dan pelayanan kita bersama itu.

Pelayanan kita bersama-sama (DPP-Umat-Pastores) bakal menghasilkan “buah-buah” yang membanggakan kita semua, kalau umat kita itu mestinya ‘semakin beriman’. Mereka semakin beriman bukanlah karena semakin rajinnya mereka ke Gereja atau menghadiri doa-doa di lingkungan, melainkan karena dalam aktivitas hidupnya, dalam pengungkapan imannya, mereka ternyata ‘semakin memasyarakat’. Mereka telah sanggup melintasi batas-batas diri dan persekutuan yang sempit dan tertutup. Mereka lebih sanggup menjadi ”garam & terang dunia” bagi sesama, siapa saja, di sekitar kehidupannya!

Dalam nama dan berkat Tuhan, marilah berjuang melayani bersama-sama, seperti YESUS. Doa-doa St. Perawan Maria dan St. Laurentius dari surg menyertai kita senantiasa.

“Jangan Membawa Bekal”

Written By Unknown on Monday, July 23, 2012 | 8:50 PM


Demikian pesan Pst. Hadrianus Tedjoworo, OSC dalam Rekoleksi Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Laurentius Masa Bakti 2012-2015. Maksudnya membawa bekal adalah tidak membawa rasa percaya diri yang berlebihan atau rasa apriori terhadap orang-orang yang ditunjuk untuk bekerjasama dengan para calon Anggota DPP yang akan dilantik pada 12 Agustus nanti ini. Sebaliknya, mereka diminta untuk bersikap rendah hati dan bersikap apa adanya.

Mereka yang hadir dalam Rekoleksi dengan tema “Melayani dengan Kharisma: Memberi dan Memberi”, adalah para calon Sekretaris DPP; Bendahara DPP; Ketua Bidang; Calon Ketua Seksi dan wakil; serta para Calon Ketua Subseksi DPP. Wisma Shalom mejadi tempat diadakannya rekoleksi yang berlangsung pada Sabtu-Minggu, 21-22 Juli lalu tersebut.

Dalam pembukaan rekoleksi yang berlangsung pada pukul 16.30 ini, Pst. Alfons Bogaartz, OSC selaku Ketua DPP berkenan memberikan kata sambutannya. Beliau berpesan agar para calon pengurus DPP ini mau memberi dan memberi dan memberi dan memberi tanpa pamrih. Beliau juga berpesan agar mereka tidak menjadi single fighter, tapi diharapkan untuk membentuk komunitas untuk dapat berbagi pikiran.

Selama 2 hari, para calon Anggota DPP ini diminta untuk mengikuti Rekoleksi yang dapat diartikan “mau dibimbing Tuhan” ini. Berbagai masukan menarik pun banyak diperoleh oleh para calon anggota DPP ini. Pastor Tedjo, OSC berpesan agar pertama-tama untuk bisa melayani di bidang masing-masing, kita diminta untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitar kita. Mereka juga diminta untuk membiasakan diri untuk bekerja bersama-sama dengan orang lain, siapapun mereka, seperti yangditulis dari Mrk. 6:7-13. Belilau juga mengajak agar para calon Anggota DPP ini dapat menilai orang baru sebagai keuntungan, dan tidak memandang orang lain dengan sikap apriori. Mampu menghargai orang lain apapun profesi mereka. Jadilah orang sederhana yang mudah diajak kerjasama dengan orang lain.

Rekoleksi yang dibawakan dengan sangat menarik ini cukup membuat para peserta yang hadir tak hendak beranjak dari bangku masing-masing. Malah rasanya setiap sesi yang diikuti semakin menarik saja rasanya. Bahkan saking menariknya cara Pst. Tedjo, OSC membawakan pembekalan kali ini, ada beberapa peserta yang menyeletuk “Eh, Pastor Tedjo ternyata bisa bercanda juga ya.”


Serangkaian acara pun sudah disiapkan dengan apik oleh panitia Rekoleksi kali ini. Selain pembekalan dari Pst. Tedjo, OSC, berbagai permainan menarik untuk melepas rasa penat pun turut menyemarakkan acara ini. Sesi kelompok untuk sharing seputar pembekalan kali ini pun turut memperkaya para peserta rekoleksi dengan pengetahuan baru seputar pelayanan yang memberi dan memberi. Misa Kudus pada hari Miggu pada pukul 12.30 mengakhiri rangkaian rekoleksi yang ditutup dengan sesi foto bersama. (MR)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Paroki St. Laurentius Bandung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger