Kominfo News :
Home » , » “Antara Korban dan Tumbal”

“Antara Korban dan Tumbal”

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Saturday, October 6, 2012 | 9:46 PM

Oleh: Pst. H. Tedjoworo, OSC

Anak-anak semakin tidak aman sekarang. Berita-berita tentang keke-rasan terhadap anak dalam rumah tangga, bertubi-tubi, makin sering muncul di media massa. Ironis sekali. Mereka yang seharusnya paling dilindungi, dijadikan sasaran pelampiasan stress. Mengapa anak-anak ini jadi tumbal? Apakah karena mereka tidak bisa membalas, lantas boleh dikorbankan? 
Rasa-rasanya kita merancukan korban dan tumbal. Saat kita berpikir “lebih baik orang lain yang dikorbankan”, itulah tumbal… Kita sangka, mengorbankan (milik) orang lain itu tidak apa-apa, asal bukan saya. Pada waktu itu, bukan egoisme lagi, tapi kebiadaban, kekejaman, yang dilakukan.

Abraham, bapa iman kita, ternyata bisa keliru menafsirkan kehendak Allah. Ketika Allah meminta supaya ia mempersembahkan [“meninggi-kan”, Ibr: alah] Ishak, putra terkasihnya, di atas gunung, Abraham mengiranya sebagai ‘mengorbankan’ anaknya itu [Ibr: alah juga]. Jika ingat kisah Abraham dan Sarah mendapat Ishak [Ibr=’tertawa’, karena Abraham tertawa saat diberi tahu akan mendapat anak pada usia tua, Kej 17:17], kita akan heran, bagaimana mungkin Allah yang memberi Ishak sekarang memintanya supaya dikorbankan?

Tapi Allah memang menguji Abraham, dan Ia menguji dengan kata-kata. Ia ingin tahu apakah Abraham ini hanya “taat buta”, atau akan berusaha memahami dulu apa maksud Allah sesungguhnya. Mungkin kita pun sering “mengorbankan orang lain” daripada “mempersembah-kan apa yang terbaik” yang kita miliki. Seseorang bersemangat men-gumpulkan dana. Saking semangatnya, dana yang terkumpul banyak sekali, melebihi harapan. Semua orang kagum atas keberhasilannya. Tapi tak ada yang tahu bahwa ia sendiri tidak menyumbang sepeser pun! Ia merasa sudah berkorban, tapi sebetulnya mengorbankan milik orang lain.

Ketika bersabda di dalam awan, “Inilah Putra-Ku yang Kukasihi, den-garkanlah Dia,” Allah berbicara tentang Diri-Nya sendiri. Peristiwa Transfigurasi adalah peristiwa Allah menunjukkan kepada dunia, siapa Diri-Nya, yang dikenali manusia! Ketika merelakan Putra-Nya yang ter-kasih, Allah sebenarnya mengorbankan (“meninggikan”) Diri-Nya bagi dunia, supaya dunia hidup. Mendengarkan Putra-Nya, berarti mengikuti apa yang dilakukan-Nya: mempersembahkan diri.

Ternyata, sebuah mentalitas bisa sangat berbahaya. Mentalitas itu ialah “asal-bukan-saya” (tak mau susah, tak mau menyumbang, tak mau berkorban, membesar-besarkan sumbangan, tak mau diberi tanggung jawab)—semua ini laku sekarang! Dan lihatlah, betapa susah orang zaman sekarang dimintai tolong. Kalau ada yang kelihatan gembel dan pucat mendekat, kita sudah menghindarinya dari jauh. Ketika ada yang butuh bantuan, kita tiba-tiba sibuk dan hilang dari peredaran. Semoga kita belajar berkorban.
Amin.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Paroki St. Laurentius Bandung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger