Kominfo News :
Home » » Makna Natal

Makna Natal

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Friday, November 23, 2012 | 12:51 PM

“... kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan lihat, ...” (Lukas 2:20)
Hari Natal sebagai hari untuk mengenang kelahiran Yesus Kristus di Bethlehem sekitar 2000 tahun silam sudah menjadi perayaan internasional, sebagai libur akhir tahun dimana orang bergembira dan bersukaria. Di Jepang sudah terbiasa diharian Natal banyak orang mengucapkan ‘Mari Karimatsu’ (Merry Christmas), padahal penduduk Jepang yang beragama Kristen kurang dari 1 persen.

Di Amerika Serikat Natal sudah menjadi big business, lihat saja film serial ‘Home Alone’ menceritakan hiruk-pikuk dan libur Natal yang ingin dinikmati orang banyak. Di Eropah Natal tidak lebih hanya kepanjangan kepercayaan tahyul masalalu. Santa Claus adalah sinkretisasi figur St. Nicholas yang mencintai anak-anak dengan Odin dewa Norwegia. Odin biasa menunggang kereta salju yang ditarik rusa kutub (rendeer) yang bisa terbang melayang dari satu cerobong asap rumah ke cerobong asap rumah lainnya. Natal sudah menjadi bagian dari tradisi folklore, cerita rakyat. Tetapi apakah Makna Natal sebenarnya?

Ketika Yesus lahir di bumi, kehadirannya dinantikan oleh umat Israel sebagai ‘Messias’ yang akan datang yang diharapkan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi, harapan manusiawi itu ternyata tidak terwujud dalam kehadiran Yesus sebab Yesus bukanlah pembebas revolusioner tetapi pembebas rohani, membebaskan manusia dari dosa-dosa mereka.

Pembebasan Yesus bukan pembebasan lahiriah tetapi pembebasan batiniah, sebab mereka yang dibebaskan dosanya akan mengalami pertobatan dan tidak lagi akan melakukan penjajahan dan walaupun terjajah akan bisa menerimanya dengan kelonggaran hati daripada sebagai penjajah tanpa perubahan hati.

Kasih Yesus dinyatakan dengan gamblang sebagai kekuatan pengubah dunia yang luar biasa, kerajaan Romawi yang begitu arogan akhirnya berubah dengan dijadikannya kota Roma pusat arogansi Romawi menjadi pusat penyebaran Kristen. Namun, Sejarah juga menunjukkan bahwa kekristenan juga sering merosot mewarisi tradisi Roma lama yang menjadi kerajaan dunia dengan segala kemegahannya.

Kalau kita melihat hari Natal, hari kelahiran Yesus sendiri, satu hal yang menarik untuk disimak adalah perubahan hidup yang terjadi dalam diri masyarakat yang berkehendak baik. Umat yang terjajah mendapatkan pegangan rohani yang menguatkan mereka dan mereka dikuatkan untuk menggapai kebebasan dari penjajahan bukan dengan perjuangan berdarah tetapi dengan kasih. Herodes yang merupakan simbol angkara murka kemudian mati merana, tetapi kepala penjaran yang tidur empuk dikasur tercengang menyaksikan rasul Paulus pengikut Yesus yang tinggal dikamar penjara pengab tetapi bisa melakukan pujian dan memuliakan Allah bersama Silas di ruang penjara, kesaksian ini akhirnya membawa kepala penjara itu bertobat menerima Kristus sebagai juruselamat keluarganya.

Orang-orang pandai dari Timur yang memiliki banyak harta (mas, kemenyan dan mur) ingin merasakan damai sejahtera yang dihadirkan ‘bayi yang lahir di Bethlehem’ itu. Sepanjang sejarah sekalipun tidak dipungkiri bahwa kekristenan membawa pertentangan dan pedang, namun lebih banyak lagi pengikut-Nya yang menjalankan iman, kasih, pengharapan dalam damai sejahtera yang dibawakan oleh Yesus Kristus yang adalah Tuhan itu.

Lebih dari itu semua, ayat diatas menunjukkan bahwa para gembala yang merupakan strata rendah dalam masyarakat Betlehem masa itu, mereka merasakan juga sukacita Natal sehingga mereka bisa memuji dan memuliakan Allah karenanya.

Masakini, Natal sudah banyak dijadikan komoditi bisnis yang luar biasa. Ditengah segala hiruk-pikuk perayaan Natal yang dirayakan di hotel dan gedung mewah, restoran, stadion dan gereja-gereja besar dengan segala kemegahannya itu, kita patut tetap bertanya, apakah Natal itu ada dampaknya bagi ‘gembala-gembala modern,’ yaitu mereka yang termajinalkan dalam masyarakat? Apakah Natal mereka rasakan sebagai obat dan penghibur dukalara mereka ataukah Natal hanya menjadi ‘show window’ yang justru meremukkan hati mereka yang melihatnya?

Saat ini di Indonesia banyak masyarakat kalangan bawah mengalami derita berkepanjangan. Belum selesai urusan Tsunami di Aceh, kita merasakan tsunami kecil di Yogya, muntahnya lahar dingin gunung Merapi, tertumpahnya lupur panas di Sidoarjo, kenaikan harga beras, kebakaran hutan di banyak lokasi, banjir musim hujan dimana-mana, dan penggusuran-penggusuran rumah warga miskin di kota-kota. Di tengah itu semua, bagaimana kita bisa menghadirkan kasih Natal dengan tepat?

Setidaknya ada dua langkah pasif dan aktif yang bisa dilakukan oleh umat Kristen dalam merayakan Natal. Pertama janganlah kita menjadikan perayaan Natal sebagai acara cinta diri yang narsistik yang mencolok ditengah kemiskinan disekitar kita. Natal harus dimengerti dan dirayakan bukan sebagai kenikmatan untuk diri dan keluarga sendiri, tetapi Natal adalah pesan dan kasih Tuhan melalui kita untuk dinikmati banyak orang di sekeliling kita. Kedua, hendaklah Natal kita jadikan pendorong untuk kita terus menerus mengasihi sesama agar mereka yang miskin yang terpinggirkan dapat ‘memuji dan memuliakan Allah karena segala yang mereka dengar, lihat, dan alami’ dari Natal seperti yang dinyatakan oleh para pengikutnya pada masakini. Ini bisa dilakukan dengan program-program kasih sosial yang terus menerus.

Kiranya damai sejahtera Allah tetap dan selalu menyertai kita dimanapun kita berada dan kapanpun diluar hari Natal pada bulan Desember. Amin!

sumber: www.yabina.org
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Paroki St. Laurentius Bandung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger