Kominfo News :
Home » » Santa Theresia dari Avila

Santa Theresia dari Avila

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Monday, October 15, 2012 | 11:38 AM

Terlahir dengan nama "Teresa Sanchez Cepeda Davila y Ahumada' di Avilla, Spanyol Tengah pada tanggal 28 Maret 1515. Beliau dikenal sebagai salah seorang mistisi besar gereja dan bersama Santa Katarina dari Siena diberi gelar sebagai pujangga Gereja. Ia terkenal sebagai pembaharu corak hidup membiara di kalangan Ordo Suster-Suster Karmelit. Masa aktifnya sebagai suster karmelit dimanfaatkannya dengan banyak menulis literature-literatur mistik Katolik yang bernilai tinggi.

Dari buku otobiografinya, kita mengetahui banyak hal tentang kehidupannya sendiri dan keluarganya. Orang tuanya saleh dan disiplin namun tidak kaku, dermawan tetapi tidak pemboros. Teresa adalah anak ketiga dari sembilan orang bersaudara dari perkawinan kedua ayahnya, Alfonso Sanchez de Cepeda, dengan Beatrice Davila y Ahumada. Bila digabung dengan anak-anak dari perkawinan pertama ayahnya, mereka ada 12 orang bersaudara. Di rumah, Teresa mendapat pendidikan yang baik sehingga membuat dia berkembang menjadi seorang puteri yang riang dan sangat aktif, pernah suatu hari dalam umur tujuh tahun, ia bersama kakaknya Rodrigo bertekad pergi ke Afrika agar mati sebagai martir, karena mendengar berita penganiayaan orang-orang Kristen di sana oleh orang-orang Moor. Tetapi mereka dihadang oleh pamannya dan dipaksa kembali ke rumah.

Semakin besar, Teresa semakin cantik dan menarik. Penampilannya sangat menyerupai ibunya. Hanya saja, ia sadar akan keelokan wajahnya, dan akan jiwanya yang pesolek an senang dikagumi. Ayahnya cemas sekali akan perkembangannya, sehingga cepat-cepat menyekolahkannya dia di sebuah sekolah puteri yang dikelola oleh suster-suster Santo Agustinus. Di sana ia tinggal di asrama dengan disiplin yang keras. Cara hidup di dalam asrama itu membuat ia sadar akan perilakunya yang kurang pada tempatnya. Tetapi ia sakit-sakitan dan akhirnya terpaksa kembali ke rumah setelah satu setengah tahun belajar di sekolah itu.

Pada tahun 1538 tatkala berusia 21 tahun, ia masuk biara karmelit inkarnasi di Avilla dengan nama Teresia dari Yesus. Baginya kehidupan membiara adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan jiwanya sendiri dan jiwa orang lain. Namun meski ia berhati teguh, hidupnya tampak kurang bergairah: di rumah ia selalu senang dan tenteram. Ia akrab dengan saudara-saudaranya dan tetangga sekitar. Oleh karena itu hatinya masih tertambat pada keluarganya, dan tak sudi untuk berpisah terus.

Di biara itu memang melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya namun ia bersikap acuh tak acuh terhadap kehidupan rohaninya bahkan memandang remeh dosa-dosanya. Batinnya semakin kacau ketika ayahnya meninggal dunia. Ia jatuh sakit keras dan selama empat hari berada dalam keadaan koma seperti orang yang mendekati ajal. Kemudian tiga tahun ia lumpuh. Dalam penderitaan itu ia banyak berdoa dan bersemedi sehingga hidup rohaninya berkembang pesat. Dia dikaruniai banyak rahmat sehingga sering mengalami ektase. Pengalaman-pengalaman rohani itu membuat hatinya dipenuhi semangat cinta kasih ilahi. Pada tahun 1560 ia pernah menyaksikan kesengsaraan orang-orang di dalam neraka. Sejak itu ia mengalami suatu pertobatan batin yang radikal dan berdoa agar Yesus memperkenankan dia melayaninya dengan penuh kesetiaan. Untuk itu ia berikrar selalu berbuat yang lebih baik sesuai dengan kehendak Allah.

Pada usia lima puluhan Teresa mencita-citakan suatu biara kecil dimana beberapa orang suster menghayati dengan lebih sungguh aturan-aturan asli karmelit. Bersama empat suster lain, ia mendirikan biara idamannya itu: biara Santo Yosef di Avilla pada tanggal 24 Agustus 1562. Tujuan utamanya untuk membaharui semangat hidup suster-suster karmelit sesuai dengan tujuan aslinya. Usahanya mendapat banyak tantangan. Tetapi Paus mendukung usaha pembaharuannya itu. Anggotanya terus bertambah dengan pesat. Selama dua puluh taun berikutnya Teresa menjelajahi seluruh Spanyol untuk menyebarluaskan ide pembaharuannya itu, sambil mendirikan biara-biara semuanya berjumlah lima belas meskipun dengan susah payah. Ciri khas biaranya: kecil, miskin, tertutup terhadap dunia luar dan berdisiplin keras. Semangat pembaharuan yang dihidupkan Teresa menembus pula tembok ordo karmel lain yang ada pada masa itu. Mereka pun mulai berbenah diri meneladan Teresa.

Bersama Santo Yohanes dari Salib, Teresa mendirikan pertapaan pertama bagi rahib-rahib karmelit di Duruelo. Untuk menjaga agar peraturan hidup para karmelit dipegang teguh, Teresa menuliskannya dalam buku tebal. Selain itu ia pun banyak menulis buku-buku rohani yang berisi pengalaman-pengalaman rohaninya. Buku-bukunya yang terkenal antara lain: otobiografi berisi kisah hidupnya sejak kecil; fondasi berisi uraian tentang upaya pembaharuannya; istana batin berisi pengalaman-pengalaman rohaninya. Tulisan-tulisan ini ditujukan terutama pada susternya, karena nilainya yang bersifat universal, maka gereja menganggapnya sebagai kazanah iman Kristen yang tak ternilai harganya bagi pengembangan iman. Dengan demikian tulisan-tulisannya itu menjadi kekayaan gereja dan dianggap berbobot bagi pembinaan iman umat teristimewa di Spanyol.

Wanita yang penuh wibawa, polos, cantik, dan menyenangkan itu jatuh sakit, dan meninggal dunia di pangkuan bunda Anne di biara Alba de Tormes pada tanggal 24 Oktober 1582 saat mengadakan perjalanan dari Burgos ke Avilla. Beliau dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XIV dan diangkat sebagai pelindung Spanyol.

Sumber: santoantonius.blogspot.com
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Paroki St. Laurentius Bandung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger