Kominfo News :
Home » , » St. Laurentius Chamber Orchestra 7th Anniversary Concert!

St. Laurentius Chamber Orchestra 7th Anniversary Concert!

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Sunday, October 7, 2012 | 8:28 PM

Oleh: Katarina Ningrum

Setelah berdiri secara resmi sejak 2005, St. Laurentius Chamber Orchestra, dikenal sebagai SLCO, akhirnya berkesempatan untuk mengadakan sebuah konser untuk memperingati hari jadinya.

Sejak dua bulan sebelumnya, SLCO yang dipimpin Fauzie Wiriadasastra sebagai konduktor dan peng-aransemen sebagian besar lagu yang mereka bawakan, sudah mulai berlatih setiap hari Minggu.  Memang tidak mudah memainkan beberapa lagu tertentu, mereka tetap gigih demi penampilan terbaik di hari yang ditentukan nanti. 

Kesibukan ditambah lagi oleh persiapan yang sebagian besar dikerjakan oleh anggota SLCO sendiri, mulai dari pembuatan perangkat publikasi semacam spanduk, poster, dan undangan, hingga urusan lampu-lampu serta dekorasi. 

Hingga sabtu, 4 Agustus lalu, usaha mereka ini berbuah manis. Penonton sudah antusias ingin memasuki ruangan, bahkan saat mereka masih sibuk melakukan pemanasan dan menyelaraskan alat musik masing-masing! 

Konser dibuka dengan satu karya ceria dari J.S. Bach, berjudul Gavotte, dengan solois biola, Rachel, yang membawakan melodi utamanya.  Menyusul berikutnya, masih dari komposer yang sama, hadir Anchel, pemain klarinet berumur 11 tahun sebagai solois, menampilkan Sinfonia, lagu bertempo lambat yang elegan.   Untuk menyegarkan suasana, SLCO memberi kejutan berupa satu karya sederhana yang diulik sampai bernuansa  jazz.  Judul lagu itu adalah Long Long Ago, yang biasanya populer dinyanyikan anak-anak di Bina Iman.  Biasanya liriknya demikian: tanda paku di kaki dan tangan/tanda cinta/tanda cinta.  Karena itulah, penampilan ini juga diwakilkan oleh dua gadis kecil, Rena dan Mulan berduet memainkan biola diiringi orkestra yang mendadak nge-jazz itu. Sungguh manis!

Masih dalam suasana meriah, kini giliran Abigail, solois termuda sepanjang sejarah SLCO, membawa biola mungilnya dan mengalunkan Twinkle, Twinkle Little Star dengan lancar, bergantian dengan musik heboh orkestra. Anda tahu berapa usianya? Lima tahun! Ya, lima tahun dan sudah menjadi solois! Disandingkan dengan sang konduktor pun, tingginya hanya setengahnya! Tepuk tangan untuk Abigail sangat meriah, bahkan beberapa orang termangu tak percaya.

Sebagai penutup sesi satu, Minuet in G karya Beethoven dibawakan oleh Bella, salah satu pemain biola yang murni dididik di SLCO. Lagu dinamis ini bergerak cepat, bergantian tempo, lambat, cepat, dan bagian terakhirnya sangat penuh semangat!

Maka beristirahatlah penonton selama lima belas menit. Anggota orkestra pun bersembunyi dan semuanya menyiapkan diri untuk sesi berikutnya.

Babak kedua konser diawali oleh karya Bocherrini, Minuet. Lagu bernuansa tari-tarian yang sedikit centil dan tidak bisa diam. Solois kali ini adalah Ningrum, dengan viola alias biola altonya.  Instrumen ini memberikan warna yang sedikit berbeda dari biola sopran yang disebut violin.  Suaranya lebih dalam dan melankolis, namun bisa dibuat lebih ceria saat mencapai nada-nada tinggi. Setelah itu, salah satu cellist SLCO yang akrab dipanggil Mas Toto oleh semuanya, maju ke depan mengusung musik yang mendayu-dayu dari Schubert, berjudul Serenade. Lagu tersebut sukses menghanyutkan perasaan penonton dan pemain orkestra sendiri.  Lekuk-lekuk nadanya begitu miris! Agar penonton tidak larut dalam kesedihan, Jessi, pemain flute, mempersembahkan Allegro karya Bach.  Manis dan ringan, itulah kesan yang tertangkap.  Iringan orkestranya pun lincah.  Saat lagu ceria selesai, mood kembali diseret oleh Moonlight Sonata milik Beethoven yang biasanya dimainkan di atas piano.  

Bukannya piano, SLCO malah mengutus Adrie, pemegang kontrabas, untuk membawakan melodinya. Alhasil, nuansa menjadi gloomy, agak menakutkan, tetapi megah dan unik dengan nada-nada bas yang rendah.  Sebelum karya terakhir dikeluarkan, tiba-tiba sang konduktor meminjam mikrofon MC Syarif Maulana dan mengatakan satu hal yang lumayan mengagetkan.  Bahwa solois berikutnya, Brigitta, pemain biola yang juga merangkap sebagai concert mistress, sepulang gladiresik kemarin mengalami kecelakaan motor dan tangannya memar dan luka-luka. Penonton pun menjadi penasaran, seperti apa Brigitta akan membawakan lagu terakhir konser ini, Passacaglia karya Handel?  Apakah dengan tangan yang sebetulnya masih sakit, dia akan sukses? Lagu dimulai, dan selama beberapa menit yang panjang, lagu yang berubah-ubah tempo, nuansa, dan semakin ke belakang semakin rumit itu pun berhasil dimainkan oleh Brigitta, tanpa cela apapun. Penghujung lagu yang meTepuk tangan pun menggelegar di Graha Prakasita.  Itulah sebuah kegigihan yang luar biasa milik anggota SLCO! 


Bubarlah sudah konser tersebut, konduktor Fauzie Wiriadisastra pun masuk ke belakang panggung, tetapi para pemain belum bergegas karena tak ada aba-aba, dan penonton masih bertepuk tangan tiada henti.  Bahkan mereka sepertinya belum puas dengan delapan lagu barusan. Rupanya konduktor pun kembali dan menghormat lagi.  Pemain terlihat bingung. Akhirnya konduktor pun menjelaskan bahwa mereka akan memberikan satu lagu lagi. Kali ini berjudul Molly on The Shore, karya Percy Grainger. Sebuah lagu yang ritmikal dan menyenangkan, dan nampaknya menyibukkan beberapa pemain karena kecepatan temponya. Tepat sedetik sesudah not terakhir, konfeti diledakkan dan beterbanganlah kertas warna-warni menaburi semua pemain orkestra. Tepuk tangan dan sorakan masih berlanjut. Lantas kejutan satu lagi diberikan: buket bunga untuk Fauzie selaku pemimpin SLCO, Brigitta sebagai concert mistress, dan semua solois mendapat setangkai bunga mawar. 

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Paroki St. Laurentius Bandung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger