Kominfo News :
Home » , » Remaja Kita Dan Perangkap Radikalisme

Remaja Kita Dan Perangkap Radikalisme

Written By Paroki St. Laurentius Bandung on Friday, November 2, 2012 | 3:01 PM



Hampir setiap hari mdia massa memuat berita seputar bom dan teror di berbagai tempat. Berita mengenai bagaimana aparat Densus 88 POLRI bergerak dibantu masyarakat menangkap dan mengungkap kasus, misalnya. Berita-berita semacam ini seolah telah menjadi bagian sarapan pagi kita. Namun, di tengah berbagai berita-berita tersebut, yang mengherankan adalah kenyataan para pelakunya ternyata adalah anak-anak remaja. Apa yang sebenarnya terjadi dengan para remaja kita? Apa yang seharusnya perlu kita lakukan sebagai umat Katolik?

Berawal dari pertanyaan tersebutlah maka Forum Kemasyarakatan Paroki St. Laurentius menyelenggarakan diskusi untuk mengisi pertemuan rutin dwi-bulanan mereka. Dalam kesempatan kali ini, Forum Kemasyarakatan yang merupakan gabungan dari Seksi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAK); Seksi Kerasulan Awam (KERAWAM) dan Seksi Pengembangan Sosial EKonomi ini mengundang Bpk. Wawan Gunawan S. Ag. MM. Beliau yang akrab dipanggil Kang Wawan tersebut merupakan Ketua JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama).
Tepat pukul 18.00, acara yang diadakan pada Rabu 26 September di R. Agnes ini pun dimulai. Bapak Robert Suryatno selaku Ketua Seksi HAK, bertidak sebagai moderator dalam acara yang juga dihadiri oleh Pst. Alphons Bogaartz, OSC dan Pst. Charles, OSC ini. Sebagia pembukan, Bpk. Robert membagi informasi seputar berbagai peristiwa aktual seputar masalah-masalah yang berkaitan dengan Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan .

Kang Wawan pun mencoba menjawab seputar mengapa dan apa yang sedang terjadi dengan anak muda yang terlibat dalam berbagai peristiwa tersebut dan hubungannya dengan radikalisme. Beliau juga memberi pemaparan yang beliau ambil dari bagian-bagian penelitian dalam rangka thesis yang tengah disusunnya. Pemaparan beliau dimulai dengan data catatan intelijen Wawan Purwanto, serta hasil survey Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian Jakarta pada bulan Januari 2011. Pelaku kekerasan atas nama agama tidak sedikit berasal dari kalangan pemuda, bahkan mereka yang ditangkap baru-baru ini termasuk usia remaja atau pelajar setingkat SLTA. Contohnya penyergapan atas kelompok teroris Abu Dujana, pelaku bom Ritz Carlton, JW Marriot, dan penangkapan pada kasus pengeboman di Klaten (25 januari 2011). Mayoritas para pelaku ini masih muda. Yang sangat mengejutkan hasil survey LKIP yang digelar pada Oktober 2010 hingga Januari 2011 terhadap 59 Sekolah Swasta; 41 Sekolah Negeri, 590 Guru Pendidikan Agama Islam, dan 993 murid-muridnya.
Hasil survey tersebut, antara lain menunjukkan data yang cukup mengejutkan:
-    40% setuju dengan kekerasan dalam penyelesaian masalah agama dan moral;
-    67% guru dan 27 % siswa mengenali organisasi radikal dan tokoh-tokohnya;
-    24% guru dan 13 % siswa setuju terhadap tokoh-2 radikal tersebut;
-    63% guru dan 41% siswa menolak berdirinya tempat ibadah non Islam di lingkungannya;
-    57% guru dan 37% siswa menolak bertoleransi dalam perayaan keagamaan non Islam;
-    21% guru dan 26% siswa menganggap Panca Sila tidak lagi relevan sebagai ideologi negara;
-    65% guru dan 65% siswa menganggap persoalan bangsa akan teratasi bila syariat Islam  
-    diterapkan di Indonesia.
Menurut Kang Wawan penelitian di atas merupakan pendekatan normatif kuantitatif, dan penelitian kualitatif dengan essay. Sementara obyek penelitian yang beliau pilih adalah Rohis-rohis (Rohani Islam-kaum muda pengurus masjid di sekolah-sekolah). Dalam penelitian tersebut, beliau menggunakan paradigma dari Teori Gerbner, seorang pakar komunikasi massa. Dalam teori tersebut dikatakan bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk yang paling suka dongeng. Mereka menjalain hidupnya berdasarkan dongeng yang mereka percaya hingga menjadi ‘kebenaran’
Landasan teoritis dalam pengerti aini adalah pengertian bahwa radikalisme merupakan bentuk penolakan serta perlawanan terus menerus terhadap suatu kondisi, terus menerus berupaya mengganti tatanan yang ada. Kuatnya keyakinan kaum radikalis akan kebenaran ideologi yang dianut tidak terlepas dari dongeng yang membentuk keyakinan tersebut. Begitu kuatnya sehingga amat diyakini dan menjadi kebenaran ideologi bagi mereka.

Gejala-gejala Islam Radikal:
1.    Anti Barat, anti Amerika, dan anti tokoh-tokoh Indonesia yang dianggap liberal;
2.    Melawan modernitas, dengan cara berfikir hitam-putih, menganggap ideologinya paling benar;
3.    Anti rasionalisme dan anti kaum moderat atau kaum liberal;
4.    Anti plurarisme dan memupuk sikap keagamaan yang fanatik, tidak toleran terhadap agama dan kelompok lain;
5.    Menyetujui tindak kekerasan, terorisme, intimidasi serta penyalah gunaan makna ‘jihad’.
6.    Menonjolkan sikap berbeda dalam solidaristas kelompok dan ritualitas yang khas;
7.    Dan lain-lain tindakan yang berusaha ditunjukkannya melawan tatanan ‘mainstream’ yang ada, serta tidak memiliki wawasan kebangsaan Indonesia.

Dari hasil temuan lapangan dan analisa, Kang Wawan menyimpulkan bahwa kualifikasi radikalisme kaum muda yang dicerminkan di kalangan Rohis adalah:
1.    Pandangan mereka tentang penerimaan atau penolakkan terhadap sesuatu informasi berlandaskan pada sesuatu yang tidak valid dan tidak utuh;
2.    Pandangan mereka tidak ‘ajeg’, tidak konsisten, paradox dan ambigu terhadap modernisasi. Contohnya, mereka mengharamkan perempuan menjadi presiden RI, tetapi membolehkan non muslim jadi presiden;
3.    Mereka masih memiliki pandangan yang terbuka dan toleran, misalnya tentang pendirian rumah ibadah non Islam di lingkungannya;
4.    Masih bisa menerima kenyataan situasi dan kondisi secara realistis;
5.    Berpikir secara puritan tidak bertanya lebih dulu kepada alim ulama;
6.    Tidak setuju kekerasan, namun berpikir secara  simbolik tentang Islam, dan pendapat mereka lebih mengikuti struktur diskursif dari media massa.

Kesimpulannya adalah bahwa mereka tidak bisa dikatakan radikal namun juga tidak bisa dinyatakan moderat. Mereka hanya bisa dinyatakan bernuansa radikal dan bernuansa moderat. Sehingga, yang menjadi persoalan adalah bukan wacana apa yang ada di masyarakat pelajar dan kaum muda, melainkan siapa yang lebih memiliki akses menyebarkan suatu wacana tertentu kepada mereka.
Sebagai penutup acara, setelah dilakukan tanya-jawab dengan hadirin, disimpulkan bahwa  sebagai umat non-muslim, terutama bagi umat Katolik pertemuan serta diskusi ini sangat penting dan sangat berguna, kita dapat lebih mengerti apa dan bagaimana sebenarnya yang terjadi dalam konteks radikalisme dan terorisme, sebaliknya saudara-saudara kita kaum Muslim dapat menyampaikan informasi dan keterangan serta fakta yang sangat berguna bagi pelaksanaan kerukunan umat beragama.


Oleh: Jimmy Rustan (Forum Kemasyarakatan/Kontributor)

 

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Paroki St. Laurentius Bandung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger