Kominfo News :
Selamat Ulang Tahun Ke-31 Paroki St. Laurentius Bandung

Artikel Minggu ini

Iklan Paroki
Showing posts with label Kitab Suci. Show all posts
Showing posts with label Kitab Suci. Show all posts

Hari Kedelapan

Written By Unknown on Wednesday, November 28, 2012 | 3:00 AM

(Hari Kedelapan) Warta Pengharapan Kristiani di Tengah Dunia yang Terpecah-belah “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu.”(Yeh. 37)

Bacaan
Yeh. 37:1-4:                 Aku akan membuka kubur-kuburmu.
Mzm. 104:24-34:         Engkau membarui muka bumi.
Why. 21:1-5a: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!
Mat. 5:1-12:                 Berbahagialah kamu ...

Renungan

Aku akan menempatkan Roh-Ku di dalam tubuhmu dan kamu akan hidup. Iman yang didasarkan pada Kitab Suci dipenuhi dengan pengharapan yang radikal bahwa kata terakhir dalam sejarah adalah kata-kata Allah, dan bahwa kata terakhir yang diucapkan Allah bukanlah kata-kata penghakiman tetapi kata-kata penciptaan yang melahirkan suatu ciptaan baru. Sebagaimana terungkap dalam renungan hari-hari yang lalu, orang-orang Kristiani hidup di tengah-tengah suatu dunia yang diwarnai dengan aneka perpecahan dan pengasingan. Tetapi sikap Gereja tetaplah sikap berharap. Sikap yang selalu berharap ini tidak didasarkan pada apa yang dapat diperbuat oleh manusia, tetapi pada  kuasa dan keinginan lestari Allah untuk mengubah kehancuran dan perpecahan menjadi kesatuan dan keutuhan, kebencian yang mendatangkan kematian menjadi cinta yang mendatangkan kehidupan. Bangsa Korea terus-menerus menanggung konsekuensi tragis dari perpecahan nasional, tetapi di kalangan mereka juga muncul pengharapan Kristiani yang bernyala-nyala.

Pengharapan Kristiani tetap hidup bahkan di tengah penderitaan yang amat berat sebab pengharapan itu lahir dari cinta Allah yang teguh yang diungkapkan pada salib Kristus. Pengharapan bangkit bersama dengan kebangkitan Yesus dari kubur, ketika kematian dan kuasa maut dikalahkan; pengharapan menyebar bersama dengan turunnya Roh Kudus pada Hari Pentakosta, yang membarui muka bumi. Kristus yang bangkit adalah awal dari kehidupan baru yang autentik. Kebangkitan Kristus memaklumkan berakhirnya hukum lama dan menaburkan benih-benih ciptaan baru yang abadi; di sana segala sesuatu akan didamaikan dalam Dia, dan Allah akan menjadi segala-galanya dalam segala-galanya.

Lihatlah, Aku membuat segala sesuatu menjadi baru. Pengharapan Kristiani dimulai dengan pembaruan ciptaan, sedemikian rupa sehingga terpenuhilah maksud asli dari karya penciptaan yang dilakukan oleh Allah. Dalam Kitab Wahyu 21, Allah tidak berkata ‘Aku menciptakan semua hal yang baru” tetapi “Aku membuat segala sesuatu menjadi baru.” Pengharapan Kristiani bukanlah suatu penantian panjang yang pasif akan datangnya akhir dunia tetapi keinginan yang aktif untuk terjadinya pembaruan dunia. Pembaruan ini sudah dimulai dalam peristiwa kebangkitan dan Pentakosta. Pengharapan ini bukanlah pengharapan akan datangnya puncak apokaliptik sejarah yang menghancurkan dunia kita, tetapi pengharapan akan terjadinya perubahan fundamental dan radikal dari dunia yang sudah kita kenal ini. Awal baru yang ditampilkan Allah akan mengakhiri segala dosa, perpecahan, dan keterbatasan dunia; awal baru ini juga akan mengubah ciptaan sehingga ia pantas ambil bagian dalam kemuliaan Allah dan ikut menikmati keabadian-Nya.

Pengharapan inilah yang mendorong dan menopang orang-orang Kristiani ketika mereka berhimpun untuk berdoa memohon kesatuan. Kekuatan doa untuk kesatuan ini adalah kekuatan yang datang dari pembaruan yang dikerjakan Allah terhadap dunia yang Ia ciptakan; kebijaksanaan yang mendasari doa ini adalah kebijaksanaan Roh Kudus yang menghembuskan hidup baru ke dalam tulang-tulang kering dan membuatnya hidup; ketulusan doa untuk kesatuan ini tercermin pada keterbukaan diri kita secara penuh kepada kehendak Allah, yakni keterbukaan untuk diubah menjadi alat-alat kesatuan yang dikehendaki Kristus bagi murid-murid-Nya.

Doa

Allah yang mahabaik, Engkau selalu menyertai kami di tengah-tengah penderitaan dan kekalutan; dan sampai akhir zaman Engkau tetap akan menyertai kami. Bantulah kami menjadi umat yang sungguh penuh pengharapan, yang tulus menghayati Sabda Bahagia, dan gigih mengupayakan kesatuan yang Engkau dambakan. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


sumber: imankatolik.or.id

Hari Ketujuh

Written By Unknown on Tuesday, November 27, 2012 | 3:00 AM

(Hari Ketujuh) Orang-orang Kristiani Menghadapi Pluralitas Agama “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
Yes. 25:6-9:                 Inilah Tuhan yang kita nanti-nantikan.
Mzm. 117:1-2:             Pujilah Tuhan, hai segala bangsa!
Rom. 2:12-16:              Orang yang melakukan hukum Taurat akan dibenarkan.
Mrk. 7:24-30:              Dengan mengatakan ini, kamu dapat pulang ke rumah dengan hati bahagia.

Renungan

Hampir setiap hari kita mendengar kekerasan di berbagai belahan dunia antara para penganut iman yang berbeda. Tetapi, kita belajar bahwa Korea merupakan tempat di mana iman yang berbeda-beda – Buddhis, Kristiani, Konfusius – pada umumnya hidup berdampingan dalam damai.
Dalam suatu madah pujian yang agung, Nabi Yesaya berbicara tentang semua air mata yang diseka dan tentang suatu pesta mewah yang dihidangkan bagi segala suku dan bangsa! Pada suatu hari, kata Nabi Yesaya, semua bangsa di bumi akan memuji Allah dan bersuka cita karena keselamatan yang Ia berikan. Tuhan yang mereka nanti-nantikan adalah tuan dari pesta abadi dalam nyanyian pujian Yesaya.

Alkisah, Yesus berjumpa dengan seorang perempuan bukan Yahudi yang meminta Dia menyembuhkan putrinya. Mula-mula Yesus  tidak mau menolong dia, dengan nada sinis. Tetapi perempuan itu tidak menyerah, dengan berkata kurang lebih sebagai berikut: “anjing yang ada di bawah meja pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Yesus menegaskan bahwa sikap perempuan itu merupakan  bagian dari perutusan-Nya kepada orang-orang Yahudi dan juga orang-orang non-Yahudi. Maka Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan janji bahwa putrinya akan sembuh.

Gereja-Gereja sungguh memiliki komitmen kepada dialog untuk mewujudkan kesatuan umat Kristiani. Pada tahun-tahun terakhir ini, dialog juga telah dikembangkan dengan umat yang menganut iman lain, khususnya para  “ahliwaris Kitab” (Yudaisme, Islam). Perjumpaan dengan mereka tidak hanya memberikan pencerahan tetapi juga membantu memajukan sikap hormat dan hubungan baik antar-sesama, dan membangun damai di mana terjadi konflik. Kalau kesaksian Kristiani kita dipadukan dengan keutamaan iman akan Kristus,  maka upaya kita untuk menanggulangi syak-wasangka dan konflik akan semakin efektif. Dan kalau kita dengan penuh perhatian mendengarkan sesama yang beriman lain, kita dapat mempelajari lebih banyak hal tentang betapa lapangnya kasih Allah bagi semua orang, dan betapa luas kerajaan-Nya!

Dialog antar orang-orang Kristiani hendaknya tidak menjurus kepada hilangnya identitas Kristiani tertentu tetapi kepada suka cita karena kita mematuhi doa Yesus agar kita menjadi satu, sebagaimana Ia dan Bapa adalah satu. Kesatuan tidak akan terwujud hari ini atau bahkan besok; tetapi bersama-sama, juga dengan orang-orang yang menganut iman lain, kita berjalan menuju tujuan akhir kita yakni cinta dan keselamatan.

Doa

Tuhan, Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu karena kebijaksanaan yang kami perolah dari Kitab-kitab-Mu. Berilah kami keberanian untuk membuka hati dan pikiran kami kepada sesama umat Kristiani dan bahkan kepada mereka yang menganut iman lain. Berilah kami rahmat untuk mengatasi hambatan-hambatan berupa sikap acuh tak acuh, kecurigaan atau kebencian; dan perlihatkanlah kepada kami hari-hari terakhir, ketika orang-orang Kristiani dapat berjalan bersama menuju pesta abadi, di mana segala air mata akan diseka dan semua perselisihan akan dikalahkan oleh kasih. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.





sumber: imankatolik.or.id

Hari Keenam

Written By Unknown on Monday, November 26, 2012 | 3:00 AM

(Hari Keenam) Orang-orang Kristiani Menghadapi Bencana dan Penderitaan “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
2 Raj. 20:1-6:               Ingatlah akan daku, ya Tuhan!
Mzm. 22:1-11:             Mengapa Engkau meninggalkan aku?
Yak. 5:13-15:  Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit.
Mrk. 10:46-52:            Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?

Renungan

Betapa seringnya Yesus berjumpa dengan orang sakit dan berkenan menyembuhkan mereka! Kesadaran akan kemurahan Tuhan kita terhadap orang sakit sangat kuat di kalangan Gereja-Gereja kita yang masih terpecah-belah ini. Orang-orang Kristiani selalu mengikuti teladan Tuhan dengan menyembuhkan orang sakit, membangun rumah sakit, balai pengobatan, mengorganisasi karya-karya pengobatan, dan mempedulikan tidak hanya jiwa tetapi juga tubuh anak-anak Allah.

Ini bukanlah tanggapan yang luar biasa; orang sehat cenderung mengandalkan kesehatannya dan lupa akan mereka yang tidak dapat ambil bagian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat karena sakit atau cacat. Tetapi orang sakit? Mereka barangkali merasa tersingkir dari Allah, dari kehadiran-Nya, dari berkat dan kuasa penyembuhan-Nya.

Iman Hizkia yang sangat kuat menopang dia menanggung penyakitnya. Dalam masa duka cita itu, Hizkia menemukan kata-kata untuk mengenang Allah, sumber rahmatnya. Sungguh, orang-orang yang menderita malah dapat menggunakan kata-kata dari Alkitab untuk meratap dan menggugat Allah: Mengapa Engkau meninggalkan aku? Apabila kita memiliki relasi yang tulus dengan Allah, yang dilandasi dengan  bahasa kesetiaan dan bahasa syukur akan masa-masa yang membahagiakan, maka kita juga akan mampu menciptakan ruang untuk suatu bahasa  yang, kalau perlu, dapat mengungkapkan duka cita, kepedihan atau kemarahan dalam doa.

Orang sakit bukanlah obyek; mereka bukan hanya sasaran perawatan. Sebaliknya, mereka adalah subyek iman; seperti para murid Yesus, mereka harus belajar dari kisah Injil Markus. Para murid ingin secepatnya melanjutkan perjalanan bersama dengan Yesus; mereka tidak peduli akan orang sakit yang ada di pinggir kerumunan orang banyak. Ketika orang sakit itu berteriak, ia dianggap menghambat perjalanan mereka. Kita biasa merawat orang sakit, tetapi tidak begitu biasa mendengarkan teriakan keras mereka; kita bahkan merasa terganggu oleh teriakan itu. Dewasa  ini, barangkali mereka  berteriak untuk mendapatkan obat bagi negara-negara miskin, dan hal ini menyentuh permasalahan paten dan keuntungan. Para murid yang berusaha mencegah orang buta itu agar tidak menghampiri Yesus telah menjadi utusan yang harus menyampaikan jawaban Tuhan yang agak berbeda dan penuh perhatian: Mari, Ia memanggil kamu.

Barulah ketika mengantar orang sakit kepada Yesus para murid mulai memahami apa yang dikehendaki Yesus, yakni: meluangkan waktu untuk berjumpa dengan orang sakit dan berbicara dengan mereka, menanyakan apa yang mereka kehendaki dan mereka butuhkan. Suatu komunitas-penyembuh hanya dapat berkembang kalau orang-orang sakit sungguh mengalami kehadiran Allah lewat hubungan timbal balik dengan para saudari dan saudara mereka dalam Kristus.

Doa

Ya Allah, dengarkanlah umat-Mu ketika mereka berseru kepada-Mu dalam kesakitan dan kepedihan. Semoga orang-orang yang sehat selalu mensyukuri kesehatannya, dan melayani orang-orang sakit dengan tangan terbuka dan hati penuh kasih. Ya Allah, perkenankanlah kami semua hidup dalam rahmat dan penyelenggaraan-Mu, menjadi komunitas penyembuh yang sejati, yang bersama-sama memuliakan nama-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


sumber: imankatolik.or.id

Hari Kelima

Written By Unknown on Sunday, November 25, 2012 | 3:00 AM

(Hari Kelima) Orang-orang Kristiani Menghadapi Diskriminasi dan Kecurigaan Sosial “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
Yes. 58:6-12:               Jangan menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.
Mzm. 133: 133:1          Alangkah baik dan indahnya, apabila saudara-saudara hidup bersama dengan rukun.
Gal. 3:26-29:                Kamu semua satu di dalam Kristus Yesus.
Luk. 18:9-14:               Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar.

Renungan

Pada awal mula, umat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah itu bersatu padu dalam tangan Allah. Tetapi, dosa menyusup ke dalam hati laki-laki dan perempuan, dan sejak itu kita membangun segala macam syak-wasangka. Diskriminasi pun dapat terjadi hanya karena perbedaan suku atau identitas etnik, karena perbedaan identitas seksual atau karena kenyataan sebagai laki-laki dan perempuan. Di tempat-tempat lain, syak-wasangka dan diskriminasi bahkan telah melekat pada agama tertentu dan melumpuhkannya, dan hal ini menjadi alasan untuk menutup diri. Semua faktor diskriminatif ini sungguh melecehkan manusia dan menjadi sumber konflik serta penderitaan yang amat besar.

Dalam pelayanan-Nya di bumi, Yesus menunjukkan diri sebagai orang yang sangat peduli terhadap martabat laki-laki dan perempuan. Ia terus-menerus menolak segala bentuk diskriminasi; Ia juga  menolak kesombongan yang dimiliki oleh sejumlah rekan sezaman-Nya atas dasar sikap-sikap yang diskriminatif. Orang yang adil tidak selalu sama dengan yang kita bayangkan. Pelecehan tidak memiliki tempat dalam hati orang-orang beriman.

Mazmur 133 membandingkan suka cita yang dihayati oleh saudara dan saudari dengan indahnya minyak yang berharga atau segarnya embun yang turun dari Gunung Hermon. Kita diberi karunia untuk merasakan suka cita seperti itu setiap kali kita menyingkirkan prasangka kelompok dalam himpunan-himpunan ekumenis.

Pemulihan kesatuan seluruh umat manusia merupakan tugas perutusan semua orang Kristiani. Bersama-sama, mereka harus berjuang melawan segala bentuk diskriminasi. Pemulihan itu juga merupakan harapan bersama sebab kita semua satu di dalam Kristus, dan di sini tidak ada lagi Yahudi atau Yunani, budak atau orang merdeka, laki-laki  atau perempuan.

Doa

Ya Tuhan, tolonglah kami menyadari diskriminasi dan pengucilan yang merusak masyarakat. Arahkanlah pandangan kami dan bantulah kami menyadari prasangka-prasangka yang tersembunyi di dalam diri kami. Ajarlah kami memusnahkan segala bentuk pelecehan, dan ajarlah kami merasakan betapa senangnya hidup bersama dalam kesatuan. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin.


sumber; imankatolik.or.id

Hari Keempat

Written By Unknown on Saturday, November 24, 2012 | 3:00 AM


(Hari Keempat) Orang-orang Kristiani Menghadapi Krisis Ekologi “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
Kej. 1:31-2:3:  Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik.
Mzm. 148:1-5:  Ia memberi perintah, maka semuanya tercipta.
Rm. 8:18-23:     Penghancuran ciptaan.
Mat. 13:31-32:  Yang paling kecil dari segala jenis benih.

Renungan

Allah menciptakan dunia kita ini dengan kebijaksanaan dan cinta; dan ketika menyelesaikan karya agung penciptaan, Allah melihat bahwa semuanya baik adanya.

Tetapi, dewasa ini dunia dihadapkan dengan suatu krisis ekologi yang serius. Bumi menderita karena pemanasan global sebagai akibat dari konsumsi energi yang berlebihan. Dalam empat puluh tahun terakhir, luas area hutan di planet kita ini telah menyusut sekitar 50% sementara padang gurun terus semakin meluas bahkan dengan lebih cepat. Tiga perempat dari makhluk yang hidup di laut sudah musnah. Setiap hari lebih dari 100 spesies kehidupan mati, dan hilangnya keragaman makhluk hidup ini merupakan ancaman yang serius bagi umat manusia sendiri. Bersama Santo Paulus kita dapat menegaskan:  segala makhluk telah diserahkan kepada kuasa kehancuran,  ia mengerang kesakitan seperti orang yang  sakit bersalin.

Kita tidak dapat mengingkari bahwa manusia memikul tanggung jawab yang berat atas hancurnya lingkungan. Ketamakan manusia yang tak terkendali menebarkan bayang-bayang kematian atas seluruh ciptaan.

Bersama-sama, orang-orang Kristiani harus berusaha sebaik-baiknya untuk menyelamatkan alam ciptaan. Menghadapi tugas yang maha raksasa ini, mereka harus memadukan segala  usaha mereka. Hanya bersama-sama mereka dapat menjaga karya Sang Pencipta. Sungguh mustahil orang tidak menangkap tempat sentral yang diduduki oleh unsur-unsur alam dalam perumpamaan dan ajaran Yesus. Kristus menunjukkan hormat yang besar bahkan kepada benih yang paling kecil dari segala benih. Dengan mengacu kepada visi biblis mengenai ciptaan, orang-orang Kristiani dapat sehati sesuara memberikan sumbangan kepada masa depan planet kita yang hari ini kita renungkan.

Doa

Allah, Pencipta kami, dunia telah Kauciptakan dengan Sabda-Mu dan Engkau melihat bahwa dunia yang Kauciptakan itu sungguh baik adanya. Tetapi dewasa ini kami sedang menyebarkan kematian dan menghancurkan lingkungan. Bantulah kami agar dapat menyesali ketamakan kami; bantulah kami merawat semua yang telah Kauciptakan. Bersama-sama, kami ingin menjaga ciptaan-Mu. Demi Kristus, pengantara kami. Amin.

sumber: imankatolik.or.id

Hari Ketiga

Written By Unknown on Friday, November 23, 2012 | 3:00 AM

(Hari Ketiga) Orang-orang Menghadapi Ketidakadilan dan Kemiskinan Ekonomi “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu” (Yeh. 37)

Bacaan
Im. 25:8-14:  Yubileum yang membebaskan.
Mzm. 146: Tuhan  menegakkan keadilan bagi  orang-orang yang diperas.
1 Tim. 6:9-10: Cinta uang adalah akar segala kejahatan.
Luk. 4:161-21:  Yesus dan tahun yubileum sebagai pembebasan.

Renungan

Kita berdoa untuk datangnya Kerajaan Allah. Kita mendambakan suatu dunia di mana manusia, khususnya mereka yang paling papa, tidak meninggal sebelum masa yang ditentukan. Tetapi, sistem ekonomi dunia dewasa ini memperburuk situasi kaum papa dan memperparah kesenjangan sosial.
Dewasa ini komunitas dunia dihadapkan dengan krisis tenaga kerja yang semakin genting dengan segala akibatnya. Dengan demikian, pendewa-dewaan pasar (keuntungan), atau cinta uang menurut penulis Surat kepada Timotius, tampak sebagai ‘akar segala kejahatan’. Dalam konteks ini, apa yang dapat dan harus dikerjakan oleh Gereja-Gereja? Marilah kita mencermati tema yubileum dari Alkitab yang ditonjolkan Yesus untuk menggarisbawahi pelayanan-Nya.

Menurut kutipan dari Kitab Imamat, selama tahun yubileum harus dimaklumkan pembebasan; orang-orang yang terpaksa merantau karena alasan ekonomi harus dikembalikan ke rumahnya dan kepada keluarga mereka; kalau ada orang yang kehilangan segala hartanya ia harus dapat hidup di tengah masyarakat bukan sebagai orang asing. Uang tidak boleh dipinjamkan demi bunga dan makanan tidak boleh dijual demi keuntungan.

Yubileum menyiratkan suatu etika komunitas, pembebasan budak dan pengembalian mereka kepada rumah, pemulihan hak-hak keuangan dan pembebasan hutang. Bagi orang-orang yang menjadi kurban struktur masyarakat yang tidak adil, yubileum berarti pemulihan hukum dan pemulihan sarana-sarana hidup mereka.

Dalam dunia masa kini  ‘banyaknya uang’ dilihat sebagai nilai tertinggi dan sebagai tujuan hidup. Prioritas-prioritas dunia masa kini hanya akan menjerumuskan kepada kematian. Sebagai Gereja, kita dipanggil untuk menghadapi situasi ini dengan menghayati bersama semangat yubileum dan dengan mengikuti Kristus, yakni menyebarluaskan kabar baik. Jikalau orang-orang Kristiani sudah mengalami penyembuhan dari perpecahan-perpecahan mereka, maka mereka akan menjadi lebih peka terhadap perpecahan-perpecahan lain, yakni perpecahan yang melukai umat manusia dan alam ciptaan.

Doa

Allah yang mahaadil, di dunia ini ada tempat-tempat yang berkelimpahan makanan, tetapi ada juga tempat-tempat di nama tidak ada cukup makanan dan di mana kelaparan serta penyakit merajalela. Allah, pangkal damai, di dunia ini ada orang-orang yang mengambil manfaat dari kekerasan dan perang, sementara ada juga orang-orang yang karena perang dan kekerasan terpaksa meninggalkan rumah dan menjadi pengungsi. Allah yang mahamurah, bantulah kami memahami bahwa kami tidak dapat hidup melulu dari uang tetapi dari sabda Allah. Bantulah kami memahami bahwa kami tidak dapat mencapai kehidupan dan kesejahteraan sejati kecuali dengan mengasihi Engkau dan mematuhi kehendak serta ajaran-Mu. Semua ini kami mohon dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Hari Kedua

Written By Unknown on Thursday, November 22, 2012 | 3:00 AM


(Hari Kedua) Orang-orang Kristiani Menghadapi Perang dan Kekerasan “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
Yes. 2:1-4:   Mereka tidak lagi akan berlatih perang.
Mzm. 74:18-23:   Janganlah pernah melupakan umat-Mu yang miskin.
1 Ptr. 2:21-25:    Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah disembuhkan.
Mat. 5:38-48:       Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Renungan

Perang dan kekerasan merupakan hambatan utama untuk kesatuan yang dikehendaki Allah bagi umat manusia. Dalam analisis yang terakhir, perang dan kekerasan merupakan akibat dari perpecahan tak tersembuhkan yang bercokol di dalam diri kita, dan juga merupakan akibat dari kecongkakan manusia yang menghalangi kita untuk memulihkan landasan sejati keberadaan kita.

Orang-orang Kristiani Korea ingin sekali mengakhiri perpecahan yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun antara Korea Utara dan Korea Selatan; mereka juga sangat rindu menyaksikan damai bersemi di mana-mana di seluruh dunia. Kogoncangan yang terjadi di Semenanjung Korea tidak hanya mengungkapkan kepedihan satu bangsa yang masih terpecah-belah, tetapi juga menandakan mekanisme perpecahan, permusuhan, dan balas dendam yang merongrong umat manusia.

Apa yang dapat mengakhiri rangkaian perang dan kekerasan ini? Yesus menunjukkan kepada kita kuasa yang dapat menghentikan lingkaran-setan kekerasan dan ketidakadilan bahkan dalam situasi-situasi yang paling ganas. Kepada murid-murid-Nya, yang menanggapi kekerasan dan kerusuhan dengan cara-cara yang digunakan dunia, secara paradoksal Yesus  mengajarkan penolakan kekerasan (Mat. 26:51-52).

Yesus mengungkap kebenaran sejati yang ada di balik kekerasan umat manusia. Karena patuh kepada Bapa, Yesus mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian. Salib mengungkapkan paradoks dan konflik yang terkandung dalam kodrat manusia. Kematian keji yang menimpa Yesus itu merupakan awal dari suatu ciptaan baru yang memaku dosa manusia, kekerasan dan perang pada salib Yesus.

Yesus Kristus mengajarkan gerakan tanpa kekerasan yang tidak hanya berlandaskan humanisme. Ia mengajarkan pembangunan kembali ciptaan Allah; Ia juga mengajarkan harapan serta iman akan datangnya langit baru dan bumi baru. Pengharapan ini didasarkan pada kemenangan final atas kematian yang dicapai Yesus pada kayu salib; pengharapan ini mendorong kita untuk bertekun dalam mengupayakan kesatuan umat Kristiani dan dalam berjuang melawan segala bentuk perang serta kekerasan.

Doa

Ya Tuhan, Engkau telah menyerahkan diri-Mu sendiri pada kayu salib demi kesatuan seluruh umat manusia. Kami mempersembahkan kepada-Mu kodrat insani kami yang dihancurkan oleh egoisme, kesombongan, kesia-siaan, dan angkara murka. Tuhan, janganlah tinggalkan kaum tertindas yang menderita karena segala macam kekerasan, kemarahan dan kebencian, yang menjadi kurban kepercayaan yang sesat dan ideologi yang saling bertentangan. Tuhan, pandanglah kami dengan murah hati, dan perhatikanlah seluruh umat-Mu, supaya kami semua dapat menikmati damai dan sukacita yang merupakan bagian utuh dari tata ciptaan-Mu. Semoga semua orang Kristiani bekerjasama untuk mewujudkan keadilan-Mu, bukan hanya keadilan kami. Berilah kami keberanian untuk membantu sesama memanggul salib mereka, dan tidak membebankan salib kami sendiri atas bahu mereka. Tuhan, ajarkanlah kepada kami kebijaksanaan sejati supaya kami dapat memperlakukan musuh-musuh kami dengan kasih, bukan dengan  kebencian. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin.







sumber: imankatolik.or.id

Hari Pertama

Written By Unknown on Wednesday, November 21, 2012 | 4:57 PM

(Hari Pertama) Komunitas-komunitas Kristiani Menghadapi Perpecahan Lama dan Baru “agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu” (Yeh. 37)

Bacaan
Yeh. 37:15-19,22-24a: Satu dalam tangan-Mu.
Mzm. 103:8-13, atau 18: Tuhan adalah penyayang dan pengasih, dan berlimpah kasih setia.
1 Kor 3:3-7,21-23:Di antara kamu ada iri hati dan percekcokan  ... sementara kamu semua adalah milik Kristus.
Yoh. 17:17-21: Supaya mereka semua bersatu... agar dunia percaya

Renungan

Orang-orang Kristiani dipanggil menjadi alat kasih Allah yang bernyala-nyala dan mendatangkan damai di dalam dunia yang diwarnai aneka macam perpecahan dan pengasingan. Dengan dibaptis dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, dan dengan mengakui iman akan Kristus yang disalibkan dan bangkit, kita menjadi satu umat milik Kristus sendiri, suatu umat yang diutus untuk menjadi Tubuh Kristus di dunia dan bagi dunia. Untuk ini, Kristus berdoa bagi para murid-Nya: semoga mereka bersatu, supaya dunia percaya.

Perpecahan antar umat Kristiani dalam  masalah-masalah fundamental yang menyangkut iman dan kemuridan Kristiani sungguh-sungguh merongrong kemampuan kita  untuk memberi kesaksian di hadapan dunia. Di Korea, seperti di kalangan banyak bangsa lain, Injil Kristus diwartakan dengan suara yang saling bertengkar, yang menuturkan suatu pewartaan sumbang tentang Kabar Baik. Di sini ada godaan untuk melihat perpecahan-perpecahan masa kini, dengan latar belakang konflik yang menyertainya, sebagai pembenaran alami terhadap sejarah Kristiani kita; kita tidak mampu melihat perpecahan itu sebagai suatu kontradiksi internal yang sungguh-sungguh bertentangan dengan amanat bahwa Allah telah mendamaikan dunia dalam Kristus.

Penglihatan Yehezkiel tentang dua papan, yang bertuliskan nama-nama kerajaan Israel kuno yang terpecah-belah, yang menjadi satu dalam tangan Allah, merupakan suatu gambaran kuat mengenai kuasa Allah untuk mewujudkan rekonsiliasi, untuk melaksanakan bagi suatu bangsa yang diliputi perpecahan sesuatu yang tidak dapat mereka sendiri lakukan. Kiasan ini sangat menyentuh hati orang-orang Kristiani yang terpecah-belah, karena menggambarkan sumber rekonsiliasi yang ditemukan di jantung pewartaan Kristiani sendiri. Pada kedua papan kayu yang membentuk Salib Kristus itu, Tuhan yang menguasai sejarah mengambil sendiri luka-luka dan perpecahan umat manusia. Dalam totalitas pemberian diri-Nya di salib, Yesus memadukan dosa umat manusia dengan kasih setia Allah yang menyelamatkan. Menjadi Kristiani berarti dibaptis dalam kematian Yesus; terdorong oleh kerahiman-Nya yang tanpa batas, lewat kematian itu Tuhan Yesus menuliskan pada kayu salib nama-nama umat manusia yang terluka, sambil mendekapkan mereka kepada diri-Nya dan memulihkan relasi mereka dengan Allah dan dengan satu sama lain.

Kesatuan Kristiani adalah persekutuan yang didasarkan atas belonging kita kepada Kristus, kepada Allah. Dengan semakin bertobat kepada Kristus, kita mendapati diri kita didamaikan oleh kuasa Roh Kudus. Doa untuk kesatuan umat Kristiani adalah suatu pengakuan iman kita akan Allah, suatu pembukaan hati lebar-lebar kepada Roh Kudus. Dikaitkan dengan usaha-usaha kita yang lain untuk mengupayakan kesatuan di kalangan orang-orang Kristiani – dialog, kesaksian dan perutusan bersama – doa untuk kesatuan merupakan alat yang istimewa; lewat doa ini Roh Kudus sedang bekerja agar rekonsiliasi dalam Kristus dinyatakan dengan jelas dalam dunia yang akan diselamatkan oleh Kristus.

Doa

Allah yang mahamurah, Engkau telah mengasihi dan mengampuni kami dalam Kristus, dan telah berusaha mendamaikan seluruh bangsa manusia dalam kasih yang menyelamatkan. Sudilah memandang kami, yang bekerja dan berdoa untuk kesatuan komunitas-komunitas Kristiani yang terpecah-belah. Berilah kami pengalaman menjadi saudara dan saudari dalam kasih-Mu. Semoga kami menjadi satu, satu dalam tangan-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

sumber: imankatolik.or.id

Kisah Natal: Mengapa Yesus Menjadi Manusia

Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain. Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Dia sunguh-sungguh tidak percaya.

“Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih,” kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja.
“Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya… “

Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka.

“Saya tidak mau menjadi munafik,” jawabnya.
“Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang.”

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar.

Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.

Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka? Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam.

Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.

Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.

“Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan,” kata pria itu pada dirinya sendiri,
“…dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman.”

Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah.

Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata,
“Sekarang saya mengerti,” bisiknya dengan terisak.
“Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia…”

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

sumber:renungan-harian.com

Dua Perintah Utama: Mengasihi Tuhan dan Mengasihi Sesama

Written By Unknown on Thursday, November 15, 2012 | 6:00 AM

I. Dua Perintah Utama yang sering kita dengar namun sulit untuk dilaksakan secara sempurna

Bacaan di minggu ke-30 tahun A ini, Gereja memberikan bacaan dari Kel 22:20-26; Mzm 18:2-4,47,51; 1Tes 1:5-10; Mat 22:34-40. Perikop dari Mat 22:34-40, yang juga dituliskan di Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28, terasa sangat akrab di telinga kita, karena sering kita dengar dan sering didengungkan dari mimbar, dan lebih tepatnya, karena di dalam dua perintah itu – mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama – terletak seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Namun, meskipun dua perintah ini sangat sering kita dengar, namun mungkin sangat sulit untuk dilaksanakan. Padahal, kalau kita teliti, manusia secara kodrati dapat mengasihi Tuhan dan sesama. Kodrat ini diangkat derajatnya oleh rahmat Allah dalam Sakramen Baptis, sehingga manusia dapat mengasihi Allah secara lebih sempurna (adi-kodrati), yang berakibat kemampuan yang lebih untuk dapat mengasihi sesama. Mengasihi Tuhan dan sesama, itulah perintah dari Tuhan sendiri, yang menuntun manusia untuk dapat memperoleh kebahagiaan di dunia ini dan dapat mengantar manusia ke dalam Kerajaan Sorga.

II. Bacaan Matius 22:34-40
34.  Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu          
        bungkam, berkumpullah mereka
35.  dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
36.  “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?
37.  Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap 
        jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu 
        sendiri.
40.  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

III. Telaah Matius 22:34-40

Dari perikop Mat 22:34-40, kita dapat melihat secara gamblang bahwa inti bacaan tersebut adalah jawaban Yesus bahwa hukum yang terutama dalam hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Di perikop sebelumnya – Mat 22:23-33 – kita melihat bahwa Yesus telah memberikan jawaban yang tepat, sehingga orang-orang Saduki yang bertanya tentang kebangkitan badan tidak dapat berkutik lagi. Walaupun orang-orang Farisi senang (lih. Mrk 12:38; Luk 20:39)  bahwa orang-orang Saduki, yang berseberangan dengan mereka akhirnya bungkam karena jawaban Yesus, namun mungkin mereka juga kecewa karena keinginan mereka untuk menjebak Yesus ternyata tidak berhasil. Dan kemudian di ayat 24-25, kita tahu bahwa mereka berkumpul merancang pertanyaan untuk menjebak Yesus. Mungkin, jebakan kaum Farisi telah dirancang dengan sangat hati-hati, karena jebakan pertanyaan mereka tentang membayar pajak kepada kaisar (lih. Mat 22:15-22) telah gagal.

Kali ini, mereka bertanya tentang sesuatu yang dipandang sungguh sulit, yaitu “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (ay. 36) Yesus kemudian menjawab bahwa hukum yang terutama dan pertama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (ay.37-38) dan hukum yang kedua adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (ay.39). Dengan jawaban ini, maka Yesus telah merangkum semua hukum Taurat, yang disebutkan dalam Ul 6:5 dan Im 19:18.

1. Perintah ganda untuk mengasihi adalah merupakan hukum kodrat

Kalau kita meneliti sepuluh perintah Allah (Kel 20:1-17), maka kita dapat melihat bahwa hukum-hukum di dalam 10 perintah Allah adalah merupakan penjabaran dari hukum kodrat yang sempurna. Hukum kodrat ini adalah hukum atau peraturan yang terpatri di dalam setiap hati manusia. Dalam sepuluh perintah Allah, kita dapat melihat adanya perintah kasih dalam dua kelompok, yaitu hukum 1-3 adalah perintah untuk mengasihi Tuhan dan hukum 4-10 adalah perintah untuk mengasihi sesama. Urutan ke-10 perintah Allah tidak diberikan atas dasar kebetulan, tetapi menurut St. Thomas Aquinas, memang ada alasannya tergantung dari tingkatan prioritasnya.[1] Untuk mengasihi Allah, kita harus melakukan tiga hal, yaitu: (1) Tidak boleh mempunyai Allah lain, yang dituliskan: Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja, dan cintailah Aku lebih dari segala Sesuatu; (2) Harus memberikan kepada Allah penghormatan, yang dituliskan: Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat; (3) Kita harus beristirahat di dalam Tuhan, yang dituliskan: Kuduskanlah hari Tuhan. Dan untuk membuktikan kasih kita kepada Allah, maka kita harus mengasihi sesama seperti yang dijabarkan dalam perintah 4-10, yaitu: (1) Kita harus mengasihi orang tua kita, yang dituliskan: Hormatilah ibu-bapamu; (2) Kita tidak boleh melukai sesama kita dengan perbuatan – baik dengan melukai seseorang, yang dituliskan: jangan membunuh; atau merusak perkawinan seseorang, yang dituliskan: Jangan berzinah; atau mengambil barang atau harta milik sesama, yang dituliskan: Jangan mencuri; (3) Kita tidak boleh melukai sesama kita dengan perkataan dan pikiran – melukai dengan perkataan, yang dituliskan: Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu; melukai sesama dengan pikiran, yang dituliskan:  Jangan mengingini istri sesamamu dan Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.

Penjelasan yang lain dari 10 perintah Allah adalah, dalam mengasihi Allah, maka kita harus mempunyai (1) kesetiaan, (2) penghormatan, dan (3) pelayanan; dalam mengasihi sesama, kita harus (4) menjalankan tugas untuk wakil Tuhan di dunia ini dan menjalankan tugas untuk diri sendiri dan sesama dalam (5) melindungi kehidupan, (6) kemurnian, (7) harta milik, (8) kehormatan, (9 dan 10) melindungi kehidupan keluarga.

Sepuluh perintah Allah diberikan secara khusus dan ditulis di atas dua loh batu kepada bangsa Israel. Namun, perintah ini sesungguhnya bukan hanya dituliskan di atas dua loh batu, namun juga dituliskan oleh Tuhan di dalam setiap hati manusia, baik bangsa Israel maupun bangsa lain. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, rasul Paulus menegaskannya demikian “14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. 15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” (Rom 2:14-15) Ayat ini menunjukkan bahwa semua orang, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi sebenarnya terikat oleh hukum taurat, yang intinya adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Dan memang itulah kodrat manusia.
 
2. Mengapa harus mengasihi?

Kalau manusia diciptakan dengan kodrat untuk dapat mengasihi Allah dan mengasihi sesama, maka pertanyaannya adalah mengapa Allah menciptakan manusia dengan kodrat seperti ini? Jawabnya adalah karena kita menemukan kebahagiaan kita di dalam kasih kepada Tuhan, dan tidak di dalam hal-hal lain, seperti: uang, kehormatan, kekuasaan, kesenangan, bahkan juga kebajikan. Pembahasan tentang hal ini, sudah pernah ditulis di artikel: Kebahagiaan kita hanya ada dalam Tuhan, silakan klik. Maka kalau kita ingin mendapat penghiburan dan kekuatan di dalam hidup ini kita harus kembali kepada Tuhan, kita harus mengasihi Tuhan.

Cobalah kita cari orang yang terlihat sebagai orang yang paling berbahagia di dunia: tiliklah, apakah dia mengasihi Tuhan? Sebab jika ia tidak mengasihi Tuhan, ia sebenarnya tidak sungguh-sungguh berbahagia. Itulah sebabnya banyak di antara orang-orang yang demikian kemudian dapat melakukan hal-hal yang tragis dalam hidup mereka. Sedangkan sebaliknya, jika kita menemukan orang kelihatannya paling tidak bahagia di mata dunia, namun kalau ia mengasihi Tuhan, maka ternyata ia adalah orang yang paling bahagia, dalam arti yang sesungguhnya, dalam segala sesuatu. Maka sudah selayaknya kita berdoa memohon agar Tuhan membuka mata hati kita agar dapat mencari kebahagiaan di mana kita dapat sungguh menemukannya, yaitu di dalam Tuhan sendiri.

Alasan lain, mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan kodrat untuk mengasihi adalah karena tanpa kasih, manusia tidak dapat mencapai Sorga. Begitu pentingnya kasih, sehingga rasul Yohanes mengatakan “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” (1Yoh 3:14b) Dari ayat ini, kita dapat melihat bahwa untuk mendapatkan keselamatan, maka tidak ada cara lain, kecuali mengasihi. St. Agustinus menegaskan bahwa sama seperti manusia mempunyai dua kaki untuk berjalan, maka kita harus mengasihi Tuhan dan sesama untuk dapat mencapai Sorga. Sama seperti burung mempunyai dua sayap untuk terbang, maka kita harus mengasihi Tuhan dan sesama untuk dapat terbang ke Sorga. Lebih lanjut dia menegaskan bahwa sama seperti orang-orang kudus di Sorga mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya, maka kita juga harus melakukan hal yang sama di dunia ini untuk mendapatkan kebahagiaan. Dari sini, kita dapat melihat bahwa mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama sesungguhnya tidak terpisahkan. Rasul Yohanes menegaskan hal ini secara gamblang “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh 4:20)
 
3. Tuhan memampukan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi

Perintah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi adalah mengasihi Tuhan dengan keseluruhan diri kita, menempatkan Tuhan lebih utama dalam segala sesuatu, di mana saja, setiap saat dan dalam segala kondisi. Dan kalau bukti kasih kita kepada Tuhan dan tanda kita berdiam di dalam Allah adalah dengan menuruti segala perintah Tuhan (lih. 1John 2:3; 1Yoh 3:24), maka kita akan melihat bahwa sesungguhnya perintah ini sangat berat bagi manusia. Namun, Tuhan tidak akan memberikan perintah yang mustahil, karena Dia menegaskan bahwa kuk yang dipasang-Nya adalah enak dan ringan. (lih. Mat 11:29)

Kunci dari kemampuan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama adalah karena Allah telah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Kita yang telah dibaptis telah menerima rahmat Allah yang begitu besar, seperti: menjadi putera/i Allah di dalam Kristus, disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, dibebaskan dari dosa asal, menerima rahmat pengudusan, tiga kebajikan ilahi dan tujuh karunia Roh Kudus. Rahmat dari Allah kemudian diperkuat dengan rahmat yang mengalir dari sakramen-sakramen yang lain, terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Dengan bekal rahmat Allah yang begitu luar biasa ini, maka sesungguhnya umat Allah telah dimampukan untuk dapat mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, sehingga pada akhirnya dapat mengasihi sesama dengan lebih baik lagi.
 
4. Tiga tingkatan kasih

Apakah setiap orang dapat mengasihi Tuhan dengan derajat yang sama? Sama seperti adanya tingkatan dalam segala hal, maka setiap orang dapat mengasihi Allah dengan derajat yang berbeda-beda. Namun, menjadi tujuan dari umat Allah, agar kita semua dapat mengasihi Tuhan dalam derajat yang sempurna. Dari buku Christian Perfection and Comtemplation: According to St. Thomas Aquinas anda St. John of the Cross karangan Reginald Garrigou Lagrance dan dari tulisan St. Thomas Aquinas pada Summa Theology, II-II, q.34, a.9., maka kita dapat melihat tingkatan kasih:

a. Tingkatan pemula (beginners atau purgative). Pada tingkatan ini, seseorang berusaha agar dia tidak jatuh ke dalam dosa berat, dan juga berusaha untuk melawan kelemahan dan kecenderungan berbuat dosa (concupiscences). Dalam tahap ini, seseorang masih berfokus pada bagaimana caranya untuk menghindari dosa-dosa yang dulunya sering dia lakukan. Sebagai contoh kalau seseorang mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa melawan kemurnian, maka dia berjuang setengah mati agar dia tidak terjerumus ke dalam dosa yang sama. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: menghindari teman-teman yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa yang sama, menghindari tempat-tempat yang dapat membangkitkan keinginan untuk berbuat cabul, menghindari kesempatan-kesempatan untuk dapat melakukan dosa tersebut. Orang ini menyadari bahwa kalau dia jatuh ke dalam dosa berat yang sama, maka dosa berat tersebut akan menghancurkan kasih. Dengan kata lain, orang-orang dalam tingkatan ini senantiasa berusaha menghindari dosa berat.

b. Tahap kedua (Illuminative Way). Pada tahap ini, seseorang bukan lagi berfokus pada menghindari dosa, melainkan pada bagaimana bertumbuh dalam kebaikan. Mereka membuat kemajuan spiritualitas dalam terang iman dan kontemplasi. Seseorang pada tahap ini mulai berfikir apa yang dapat dilakukannya untuk dapat semakin memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan. Dia tidak lagi memikirkan untuk menghindari dosa pornografi sebab pornografi tidak menjadi godaan yang dapat menarik hatinya. Namun dia mulai berfikir, bagaimana dia dapat memberikan kebaikan kepada sesama, sehingga dia dapat membantu orang-orang yang mempunyai ketergantungan terhadap pornografi (dan dosa- dosa berat lainnya). Orang yang dalam tahap ini, bukan hanya berfikir untuk menghindari dosa berat, namun juga dia mencoba mengarahkan hidupnya dan hidup sesamanya kepada Tuhan. Dia mencoba untuk menghilangkan kecenderungan-kecenderungan di dalam dirinya yang menghalanginya untuk bersatu dengan Tuhan. Dia bertumbuh dalam kasih dengan cara berbuat kasih.

c. Tahap sempurna (Univitive Way / Heroic Love). Dalam tahap ini, seseorang secara sadar tidak mau dan dengan segala kekuatannya berusaha untuk menghindari dosa-dosa yang kecil (venial sins) sekalipun. Walaupun kadang dia masih melakukan dosa kecil, namun dosa-dosa kecil ini terjadi dengan tidak disengaja. Secara aktif dia mencoba menghilangkan apa yang tidak sempurna dalam dirinya, sehingga seluruh akal budi, perbuatan dan perkataannya ditujukan untuk menyenangkan hati Tuhan. Dia setia terhadap inspirasi dari Roh Kudus, dan menjalankan semua hal, termasuk hal-hal kecil dengan kasih yang besar. Dia sekaligus lemah lembut namun juga kokoh dalam imannya. Dia memandang rendah hal-hal dunia ini, dan secara aktif dan terus-menerus mempunyai kontemplasi terhadap hal-hal ilahi. Dia mempunyai hati yang besar (magnanimity), sehingga membuatnya dapat menyingkirkan hal-hal dunia agar dia dapat semakin bersatu dengan Tuhan. Bahkan, dia menginginkan persatuan abadi dengan Kristus melebihi apapun di dunia ini. Dalam tahap ini, seseorang juga mempunyai derajat kerendahan hati yang sempurna. Walaupun kehidupan spiritualitasnya berkembang dengan sempurna, namun dia justru melihat dirinya yang paling rendah dari manusia lain. Karena hidupnya senantiasa dipenuhi dengan sinar ilahi, maka dia dapat melihat apa-apa yang tidak sempurna dalam dirinya secara jelas dan pada saat yang bersamaan dia melihat Allah yang adalah segalanya. Dalam kondisi seperti inilah, maka orang dalam derajat kasih yang tertinggi juga akan mempunyai derajat kerendahan hati yang tertinggi.

Yang mungkin tidak kalah pentingnya adalah tiga tingkat kesempurnaan kasih di atas juga berhubungan dengan kasih terhadap sesama. Dalam tingkat awal, seseorang akan mengasihi orang -orang yang ia kenal tanpa mengabaikan orang-orang lain. Di tingkat kedua, seseorang dapat mengasihi orang-orang asing yang tidak dikenalnya. Dan di tingkat kesempurnaan, ia dapat mengasihi musuh-musuhnya. Yang perlu juga menjadi catatan adalah seseorang dapat bertumbuh dari tingkat awal ke tingkat yang lebih tinggi, namun orang juga dapat jatuh dari tingkat yang lebih tinggi ke tingkat yang paling awal. Hanya rahmat Allah dan kesediaan untuk terus bekerjasama dengan rahmat Allah, dan juga tujuh karunia Roh Kudus, yang memungkinkan seseorang untuk mencapai kesempurnaan kasih.

IV. Ajakan untuk mengasihi adalah panggilan untuk hidup kudus

Mengasihi Allah dan sesama merupakan hukum yang terutama bagi umat beriman, dan merupakan panggilan yang diserukan oleh Gereja kepada semua orang yang berkehendak baik. Ini jelas disebutkan di dalam Konsili Vatikan II, tentang Gereja, di bab V, mengenai Panggilan Umum untuk Kesucian dalam Gereja:

“Tuhan Yesuslah Guru dan Teladan ilahi segala kesempurnaan. Dengan kesucian hidup, yang dikerjakan dan dipenuhi-Nya sendiri, Ia mewartakan kepada semua dan masing-masing murid-Nya, bagaimanapun juga corak hidup mereka: “Kamu harus sempurna, seperti Bapamu yang di sorga sempurna adanya” (Mat 5:48). Sebab kepada semua diutus-Nya Roh Kudus, untuk menggerakkan mereka dari dalam, supaya mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap tenaga mereka (lih. Mrk 12:30), dan saling mencintai seperti Kristus telah mencintai mereka (lih. Yoh 13:34; 15:12). Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam tuhan Yesus, dan dalam baptis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang telah mereka terima. Oleh rasul mereka dinasehati, supaya hidup “sebagaimana layak bagi orang-orang kudus” (Ef 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai orang-orang Kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kol 3:12); dan supaya menghasilkan buah-buah Roh yang membawa kepada kesucian (lih. Gal 5:22; Rom 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua bersalah (lih. Yak 3:2), kita terus-menerus membutuhkan belaskasihan Allah dan wajib berdoa setiap hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Mat 6:12).

Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang Kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian sedemikian ini sebuah kehidupan yang lebih manusiawi dapat dimajukan di dalam kehidupan masyarakat di dunia ini. Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan merupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus.” (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 40)

Selanjutnya silakan membaca artikel seri tentang Kesucian/ Kekudusan: Apa itu Kesucian/Kekudusan?; Semua Orang Dipanggil untuk Hidup Kudus; Refleksi Praktis tentang Kekudusan; Kerendahan Hati: Dasar dan Jalan Menuju Kekudusan

V. Mari mengasihi

Dari pembahasan di atas, maka sudah seharusnya kita berjuang untuk melaksanakan perintah Kristus yang utama, yaitu untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Ini adalah kekudusan yang kepadanya kita semua dipanggil, seturut dengan kehendak Allah (lih. 1Tes 4:3). Hanya dengan mengasihi, manusia dapat memperoleh arti hidup, yaitu kebahagiaan di dunia ini dan pada saatnya nanti, akan kebahagiaan abadi di Sorga. Mari, mulailah dan bertumbuhlah dalam kasih, sebab kita semua diciptakan untuk mengasihi.

Sumber:http://katolisitas.org

Alkitab Itu Menyehatkan

Written By Unknown on Wednesday, November 7, 2012 | 2:18 PM

Berdasarkan riset dari Prof Dr Jeffrey Leven dan Dr David Larsen (Washington Times, 30 Juli 1996), dilaporkan bahwa apabila orang membaca Alkitab secara teratur, ini bukan saja baik bagi jiwanya, tetapi juga baik bagi tubuhnya. Mereka melakukan penelitian terhadap lebih dari 500 orang, selama berbulan-bulan. Ditemukan bahwa pada mereka yang membaca Alkitab secara teratur: akan :

# mempunyai tekanan darah lebih rendah
# tingkat depresi lebih rendah
# lebih sedikit penderita penyakit jantung
# jarang yang kecanduan obat maupun alkohol
# jarang terjadi perpecahan dalam perkawinan
# tingkat kesehatannya jauh lebih baik

Dan berdasarkan laporan dari Religion in American Life, para peneliti menemukan bahwa mereka yang sering membaca Alkitab, mempunyai kemungkinan 50% jauh lebih banyak untuk menolak obat-obatan yang terlarang, daripada mereka yang tidak pernah membaca Alkitab. Di samping itu di tempat pekerjaan mereka, mereka memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi di atas rata-rata.

Di penjara “Lewes Remand Prison” di Inggris, pendetanya telah berhasil menobatkan sekitar 600 orang napi, setelah mereka membaca Alkitab selama berbulan-bulan. Mereka memberikan kesaksian “Bahwa Alkitab itu ternyata lebih baik daripada nyetun!”

Suatu malam di tahun 1989 dua orang salesman keliling, John Nicholson dan Samuel Hill, bertemu di sebuah hotel. Dalam percakapannya ternyata mereka mempunyai gagasan yang sama, yakni alangkah baiknya apabila ada Alkitab di dalam kamar hotelnya. Oleh sebab itulah akhirnya mereka berdua bersama seorang rekan lainnya lagi, WJ Knight, membentuk satu yayasan untuk menyalurkan Alkitab ke hotel-hotel. Yayasan mereka diberi nama “Gideon.”

Nama Gideon diambil dari Kitab Hakim-Hakim 6 & 7. Mereka bukan saja menempatkan Alkitab di hotel-hotel, melainkan juga di rumah sakit, penjara maupun gedung-gedung asrama lainnya. Hampir di seluruh Hotel di Eropa maupun di USA, Anda akan selalu menemukan Alkitab dari Gideon di laci kamar hotel Anda. Pada saat ini Gideon menyalurkan dan membagi-bagikan lebih dari satu juta jilid Alkitab perminggu ke seluruh mancanegara.

Dengan ini saya akhiri oret-oretan saya mengenai Alkitab. Melalui oret-oretan ini sebenarnya saya ingin mengajak para pembaca untuk merenungkannya sejenak arti dan makna dari Alkitab dalam kehidupan Anda sehari-hari, sambil bertanya apakah benar Alkitab ini bermanfaat bagi saya? Berapa jauh saya membutuhkan Alkitab dalam kehidupan saya sehari-hari?

Jangan kita membaca Alkitab tanpa kita sendiri menyadari untuk apa makna dan manfaatnya, seperti juga kalau tiap hari kita menelan obat atau vitamin, tanpa kita sendiri menyadari untuk apa. Mungkin motivasi makan obat tersebut akan lenyap apabila kita tidak tahu untuk apa kita memakan obat tersebut.Begitu juga dengan membaca Alkitab, tetapi kebalikannya kalau kita menyadari manfaat dari firman Allah tersebut, maka kita akan memiliki motivasi yang jauh lebih besar untuk membaca Alkitab.

Tuhan Yesus memberkati hidupmu. Amin

Sumber: renunganhidup.com

Gereja Katolik adalah TUBUH KRISTUS

Written By Unknown on Thursday, October 25, 2012 | 2:41 PM

Menyangkut Manusia - Gereja - Allah:
Gereja Katolik adalah TUBUH KRISTUS. Kristus "adalah Kepala Tubuh, tetapi Tubuh adalah Gereja" (Kol 1:18).

Yesus mendirikan Gereja-Nya diatas Kefas (Mat 16:18-19) dan kepada Kefas ini dipercayakan SEMUA domba-domba Kristus (Yoh 21:15-17).

Gereja dan Kristus adalah SATU meski terbedakan.

Di sinilah Kristus diimani seperti yang diinginkan oleh Allah sendiri. Di sinilah Injil yang asli diwartakan dalam kepenuhannya. Tidak ada yang lain.

Bahkan Sto Paulus mengatakan bahwa mereka yang memberitakan injil lain maka terkutuklah dia. (Gal 1:8-9)

Yesus juga mengajarkan kepada kita dari dalam Kitab Suci, untuk taat kepada hirarki (Luk 10:16):

"Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."

Bukankah ketaatan total berarti harus pula menuruti ajaran yang diajarkan-Nya?

Ketidak-tauan tidak mendatangkan dosa. Kalaupun tetap dihukum karena ketidak-tauannya, maka hukuman yang diganjarkan-Nya pastinya tidak seberat yang diganjarkan kepada mereka2 yang tau, bukan? Hal ini berlaku kepada umat Protestant yang memperoleh iman Protestant mereka dari para orang-tuanya. Sampai kepada batas 'reason of age', di mana kelak mereka berkewajiban mencari dan menemukan kepenuhan kebenaran yang sejati dan kembali ke dalam pangkuan Bunda Gereja Katolik yang kudus.

Adalah Martin Luther yang MELEMPAR KE LUAR ketujuh kitab yang telah dinyatakan kanonik sejak awal sejarah Gereja. Dia juga menolak surat kepada umat di Ibrani dan Kitab Wahyu.

Dia juga menyebut Surat Yakobus sebagai: "sebuah surat dari jerami" karena Yohanes 2:14-26 bertentangan dengan teologi PRIBADINYAmengenai perbuatan-perbuatan baik.

Mantan romo ini juga dengan berani MENAMBAHKAN kata 'hanya' (dalam Kitab Suci terjemahan bahasa Jerman-nya, yang masih dipergunakan sampai pada hari ini), yaitu pada ayat Roma 3:20

"Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa." (Versi Katolik yang BENAR)

Dan Roma 4:15,

"Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran." (Versi Katolik yang BENAR)

dan dia secara berani menyisipkan kata "saja" atau 'Sola' pada Roma 3:28.

"Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat." (Versi Katolik yang BENAR).

Kata "alone" ditolak oleh surat Yakobus. Penambahan kata "alone" meniimbulkan Protestantisme dan doktrin Sola Fide.

Menambah Kata "alone" berakibat parah dan sesat.
Iman tanpa perbuatan adalah Mati!
Silakan baca Yakobus dan surat Paulus yang lain terutama Fil 2:12

"Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah KERJAKAN keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,"

Mendiang pastor Martin Luther telah menyebarkan Injil lain yang baru yang tidak dikenal umat Kristen Perdan dan yang tidak sesuai dengan iman Gereja. (Gal 1:8-9)

PADAHAL, Kanon Kitab Suci yang aktual sama seperti yang kita pergunakan sampai hari ini selalu sama sejak setelah ditegaskan pada Konsili Roma pada tahun 382 dalam masa Paus Damasus, yang mencakup semua dan hanya ke-73 kitab yang dijunjung orang2 Katolik saat ini.

Kanon ini telah diulangi di Konsili Hippo dan di Kartago (masing-masing pada tahun 393 dan 397 M) dan telah diulang-ulang sejak itu.

PENTING:
Kitab Suci Gereja Katolik itu diinspirasikan oleh Roh Kudus dan diberikan pertama-tama kepada Gereja-Nya untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan melengkapi orang-orang pilihan Allah yaitu umat Katolik agar mereka dapat melakukan perbuatan baik (2 Tim 3:16-17).

Karena Dia mengganjar yang benar dan menghukum yang jahat (Ibr 11:6).

"Dominus Illuminatio Mea!"--"Tuhan adalah Cahayaku."

[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. Thomas A Kempis, 'De Imitatione Christi II, 2, 2]
*>Credit to DeusVult, Evangelos

Sumber: Facebook Katolik Indonesia

Doa Bapa Kami

Written By Unknown on Wednesday, October 24, 2012 | 9:52 PM

Pada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Jawab Yesus kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” (Luk 11:1-4)
Bacaan Pertama: Gal 2:1-2,7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2

“Ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami” (Luk 11:4).

Seorang murid Yesus meminta kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa” (Luk 11:1). Kemudian Yesus mengajarkan “Doa Bapa Kami” kepada mereka. Dalam bagian akhir doa itu disinggung soal pengampunan. Kita mengetahui betapa sering Yesus mengatakan kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita katakan haruslah riil, harus keluar dari hati, harus murni dan bebas dari kemunafikan. Di sini jelas Yesus mengajar kita untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita, pengampunan yang keluar dari dalam hati kita manakala kita berdoa, dengan demikian diri kita akan terbuka dan mampu untuk menerima pengampunan dari Bapa surgawi atas dosa-dosa kita.

Apabila kita tidak mengampuni, maka kita sungguh menderita sakit di dalam batin dan kita menghalangi jalan kepada kasih pengampunan Allah. Seorang Kristiani tak boleh mendendam, karena hal itu berasal dari daging, bukan dari roh. Roh Kristus selalu merupakan Roh pengampun. Ketika Yesus memperingatkan kita agar tidak menghakimi orang-orang lain, maka yang dimaksudkan-Nya adalah kita tidak membangkitkan tulang-tulang mati dari luka-luka masa lampau. Sebaliknya kita harus memohon kepada Allah supaya “membanjiri” orang-orang itu dengan pengampunan-Nya yang menyembuhkan.

Apabila kita merasa hal ini susah untuk dilakukan, maka kita perlu minta kepada Allah karunia yang paling besar itu, yaitu karunia kesembuhan, kasih yang mengampuni. Yesus tidak akan menolak permintaan kita seperti itu. Dia mengetahui dengan lebih baik daripada siapa pun juga bagaimana esensialnya karunia itu bagi kehidupan dan kesehatan rohani kita. Berikut ini adalah sebuah doa yang dapat kita gunakan untuk memohon kepada Yesus agar kepada kita dapat diberikan roh penyembuhan-pengampunan yang sangat berharga itu.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya akan kasih-Mu bagiku yang tanpa batas. Aku berterima kasih kepada-Mu untuk kesetiaan-Mu kepadaku. Aku memuji Engkau untuk kasih-Mu kepadaku yang penuh pengampunan. Engkau mengetahui, ya Tuhan, dosa-dosa apa saja yang telah melukai diriku, dan bagaimana semua itu terjadi. Yesus, bebaskanlah aku dari segala penolakanku. Penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu, ya Yesus, Roh kasih-Mu yang penuh kuasa untuk mengampuni. Bagikanlah kasih-Mu yang sempurna dengan diriku, agar aku dapat mengampuni semua orang yang pernah bersalah kepadaku, mereka yang pernah menyakiti hatiku. Aku ingin mengampuni mereka sesuai dengan cara-cara yang Kauajarkan. Tuhan Yesus, aku mohon berkat istimewa dari-Mu atas anak-anak Bapa yang telah menyebabkan aku menderita dan terhina. Dari kedalaman hatiku aku mengampuni setiap pribadi yang telah bersalah kepadaku itu. Berikanlah kepada mereka kasih-Mu secara berlimpah, ya Tuhan Yesus, agar mereka dapat disembuhkan dari luka-luka apa pun dalam kehidupan mereka yang telah menyebabkan mereka melukai orang-orang lain. Aku mengasihi Engkau, Tuhan Yesus yang mahapengampun, karena Engkau membawa kesembuhan ke dalam hidupku. Sembuhkanlah aku, ya Tuhan dan buatlah aku senantiasa terbuka bagi kuasa kasih-Mu. Ampunilah mereka yang sekarang kuampuni, agar kami dapat dipersatukan kembali dalam Hati-Mu. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu, ya Yesus, dan terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Sumber: sangsabda.wordpress.com

"Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan."

 (Ef 3:2-12; Luk 12:39-48)
"Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." Kata Petrus: "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?" Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." (Luk 12:39-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Sabda hari ini kiranya mengingatkan kita semua bahwa sewaktu-waktu kita dapat dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Pada masa kini sering kita dengar tiba-tiba ada orang meninggal dunia dalam tugas atau hidup biasa sehari-hari, dimana yang bersangkutan kelihatan baik-baik dan sehat-sehat saja. Yang mengalami demikian pada umumnya adalah laki-laki karena serangan jantung yang disebut "widow-maker" (=pembuat janda). Konon ada tiga saluran yang menuju jantung untuk menyalurkan oksigen, dua diantaranya kecil dan yang satu besar; ketika yang tersumbat oleh endapan kolesterol saluran kecil merupakan serangan jantung biasa, tetapi ketika yang tersumbat saluran besar maka dalam hitungan detik yang bersangkutan langsung meninggal dunia. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua untuk menjaga kebugaran tubuh, yang terkait dengan kesehatan jantung, dan tentu saja juga kesehatan rohani atau spiritual, hati, jiwa dan akal budi. Dengan kata lain selain menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, hendaknya juga berusaha hidup baik, suci, benar dan bermoral, hidup dan bertindak senantiasa sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan. Dengan kata lain kapan pun dan dimana pun hendaknya mesra bergaul dan bersama Tuhan, sehingga sewaktu-waktu dipanggil Tuhan tidak takut, tidak terkejut, melainkan menanggapi panggilanNya atau kematian dengan ceria dan senyum, karena setelah meninggal dunia akan hidup mulia dan berbahagia selamanya di sorga. Didiklah dan binalah anak-anak anda sedini mungkin terus menerus bergaul mesra dengan Tuhan alias hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur.
·   "Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya" (Ef 3:12). Sekali lagi saya angkat bahwa kutipan inilah yang juga menjadi pegangan dan kekuatan saya dalam menghayati panggilan imamat sampai kini. "Di dalam Dia" berarti senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, setia dan taat melaksanakan janji-janji  yang pernah diikrarkan. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk senantiasa hidup dan bertindak 'di dalam Dia', dalam Tuhan, tidak hidup bebas seenaknya sendiri, mengikuti selera atau keinginan pribadi. Kami berharap kepada siapapun yang berpengaruh dalam hidup dan bekerja bersamaa dapat menjadi teladan atau inspirator dalam hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan dalam kondisi atau situasi apapun. Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan mendampingi kita, tak pernah meninggalkan kita sendirian. Maka meskipun hidup sendirian hendaknya jangan takut dan bertindak seenaknya, melainkan tetap berpegang teguh pada janji yang telah diikrarkan atau sabda Tuhan. Dengan kata lain marilah kita hayati retret dalam hidup sehari-hari, berrekreasi dengan Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, kapan pun dan dimana pun. Marilah kita percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi yang siang malam tiada henti. Semoga kita semua ketika dipanggil Tuhan nanti tetap setia dan taat kepada panggilan dan tugas pengutusanNya. Hendaknya kita juga saling mengingatkan satu sama lain sebagai saudara atau sahabat dalam peziarahan hidup kembali kepada Tuhan.

"Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur!Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!" (Yes 12:2-5)
 
 Sumber: katolik-renungan.blogspot.com
(Ign 24 Oktober 2012)

Perjanjian Baru

Written By Unknown on Sunday, October 21, 2012 | 1:18 AM

Perjanjian Baru adalah sebuah kumpulan 27 kitab dari Kitab Suci yang ditulis selama 70 tahun setelah kebangkitan Yesus. Gereja para rasul melihat dalam kitab-kitab ini suatu ungkapan iman mereka yang otentik. Gereja telah mengakui secara resmi bahwa kitab-kitab ini diilhami oleh Allah, sabagai sabda Allah. Sama seperti dalam Perjanjian Lama, kitab-kitab ini tidak begitu saja jatuh dari langit, sebaliknya kita mengakuinya sebagai milik para rasul dan para pewarta Injil dalam Gereja Perdana. Kitab-kitab ini tidak bermaksud untuk menjawab semua pertanyaan kita mengenai iman, melainkan suatu kumpulan kesaksian dimana kita menemukan pribadi Yesus dan cara Gereja perdana melihat dirinya dijiwai dan digerekan oleh kuasa kebangkitan-Nya. Kehendak Allahlah yang membuat orang-orang Kristen dari segala abad dapat mengenal Yesus dan karya penebusan-Nya melalui kesaksian-kesaksian yang dahsyat ini.

Tetapi mengapa suatu perjanjian baru ditempatkan setelah Perjanjian Lama? Semata-mata karena setiap perjanjian membentuk suatu bagian sejarah keselamatan dan pewahyuan Allah dalam sejarah. Salib Yesus memisahkan dua fase ini.

Dalam Perjanjian Lama sebuah bangsa dibentuk. Mereka bertumbuh melalui pengalaman mereka, dan setelah berharap akan seribu satu hal yang dicari semua orang, mereka baru mengerti bahwa yang benar-benar penting adalah mengharapkan dan mencari kerajaan keadilan dimana semua orang akan diciptakan baru. Ketika kita membaca sejarah Kitab Suci, kita dapat melihat arah yang ditempuh dan menemukan tahap-tahap berbeda dan tokoh-tokoh kuncinya. Israel menemukan nilai luhur eksistensi dan kehidupan sosial. Kita mengerti mengapa mereka memerlukan waktu berabad-abad untuk menemukan suatu yang melampaui pemahaman mereka. Kita mengerti mengapa kesejahteraan kerajaan Israel kuno tidak dapat bertahan lama dan mengapa penting bagi umat Allah untuk menginsafi dan menyadari apa yang hilang dalam kekuasaan dan kemuliaan duniawi. Kita melihat mengapa, setelah bermunculan banyak juruselamat palsu, Juruselamat sejati datang bagi mereka yang sementara mengalami krisis akhir dibawah penindasan Romawi dan radikalisasi kekuatan-kekuatan politik.

Jadi pesan Yesus merupakan suatu panggilan untuk mengatasi keterbatasan nasionalisme dan fanastisisme yang sempit, supaya menemukan disini dan kini Kerajaan dan Keadilan Allah. Sejarah Israel harus mengalir kedalam suatu era baru dengan umat Allah yang universal, yang kaya pengetahuan akan Bapa dan Putra, Umat semacam itu tidak akan mempraktekan kekerasan sehingga menghindari perpecahan dan penindasan. Kita tahu bahwa bagsa Yahudi jatuh setelah beberapa tahun kemudian itulah akhir dari suatu dunia dan leyapnya sebuah harapan

Perjanjian Baru tidak menggantikan perjanjian Lama. Ajaran Yesus tidak membut peringatan-peringatan para nabi menjadi tidak relevan, Cinta tidak menggantikan keadilan. Keselamatan yang dijanjikan kepada umat Yahudi tidak digantikan oleh suatu “keselamatan jiwa-jiwa” tetapi sebaliknya Injil disampaikan sebagai kebenaran yang membebaskan yang meluruskan kembali sejarah dan mengerahkan semua bangsa kearah tujuan penyatuan kembali dan rekonsiliasi dalam Kristus atas semua kekuasaan manusia dan daya kreasi dalam alam semesta.

Ketika usaha-usaha untuk menginjili orang-orang Yahudi di Palestina gagal, orang-orang Kristen Yahudi pertama berbalik kepada bangsa-bangsa lain dan memberitakan Injil kepada mereka. Dalam beberapa tahun saja, Gereja mulai tersebar luas diseluruh Dunia, yang kemudian dikenal sebagai bangsa-bangsa dari kerajaanYunani-Romawi. Pada Permulaannya ada suatu kepercayaan umum diantara orang-orang Kristen bahwa pesan Yesus akan segera sampai keujung dunia, dan Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan untuk menghakimi. Pada tahun 70-an ilusi ini hilang; sejarah berakhir lebih lama daripada yang telah mereka harapkan.

Komunitas-komunitas Kristen mulai mengumpulkan apa yang telah ditulis untuk menyelamatkan ajaran para rasul. Mereka juga mengartikan kembali pengalaman-pengalaman penting orang-orang Kristen perdana. Dari Kitab-kitab yang dihasilkan Gereja menyetujui kitab-kitab yang menyatakan iman sebagaimana diterima dari para rasul dan menolak kitab-kitab lainnya yang meskipun sangat pantas dihargai, kelihatannya tidak menyampaikan pesan iman yang paling fundamental dan universal.

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani (Edisi Pastoral Katolik) - www.imankatolik.or.id

Dengarkan Hati Nurani

Written By Unknown on Friday, October 19, 2012 | 4:41 PM

Mazmur 16: 7-8 - Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
Ibrani 9:14 & 10:22 - betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

Puteri Pastor Li, hamba TUHAN yang mati karena imannya, terpaksa bekerja di Kamp Kerja Paksa di Cina demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Gadis berusia 12 tahun itu pergi menghadap Kepala Kamp Kerja Paksa. "Ayah saya telah dikirim ketempat ini dan sekarang ia telah tiada. Kami tidak punya makanan, uang dan tempat tinggal. Adakah pekerjaan yang dapat saya lakukan di Kamp ini?" katanya menjelaskan. Karena merasa kasihan Kepala Kamp berkata, "Aku punya pekerjaan untukmu, tapi bayarannya rendah." Gadis kecil itu menganggukan kepalanya tanda setuju. Kepala Kamp itu membawanya ke lokasi tambang biji besi. "Kau lihat tombol merah itu? Tugasmu adalah berdiri di dekatnya sepanjang hari. Jika ada yang menyuruhmu memencetnya, segera lakukan! Tombol itu akan membunyikan alarm yang memperingatkan para pekerja tambang agar keluar secepatnya. Kau tidak boleh memencetnya secara sembarangan, " katanya tegas.

Suatu siang gadis kecil itu mendengar suara, "Pencet tombolnya!" Ia melihat ke sekelilingnya namun tak menemukan siapapun. Tak lama kemudian terdengar lagi, "Cepat, pencet tombolnya sekarang!" Dan beberapa detik kemudian suara itu kembali terdengar. Kali ini ia menyadari bahwa itu adalah suara Tuhan. Ia tidak mengerti mengapa harus memencet tombol itu, tapi ia tahu harus menurutiNya. Saat alarm berbunyi, 3.000 orang pekerja berhamburan keluar dari pertambangan. Kepala Kamp berlari keluar dari kantornya, ia ingin tahu kenapa gadis kecil itu memencet tombol merah. Belum sempat ia bertanya, tiba-tiba gempa bumi yang hebat mengguncang tempat itu. Seluruh area pertambangan itu runtuh dan tak seorang pun yang mampu membangunnya kembali sampai saat ini. Saat gempa berakhir semua mata memandangi si gadis kecil. Kawan Li, bagaimana kau tahu kalau harus menekan tombol itu? Tanya Kepala Kamp. "Tuhan Yesuslah yang menyuruh saya. Tiga kali Dia menyuruh saya melakukannya. Yesus adalah satu-satunya jalan bagi kita untuk mengenal Allah yang hidup. Dia mencintai kalian dan Dia baru saja menunjukkan kasihNya. Kalian harus berbalik dari dosa dan menyerahkan hidup kalian kepadaNya." Katanya dengan lantang. Saat itu, 3.000 pekerja dan Kepala Kamp berlutut berdoa meminta Yesus mengampuni merreka. Akhirnya banyak orang yang diselamatkan karena gadis kecil yang takut akan Tuhan itu menyendengkan telinganya untuk mendengar tuntunan Tuhan.

Roh Tuhan berdiam didalam umat tebusanNya dan setiap hari Dia berbicara kepada kita melalui hati nurani yang telah dimurnikannya. Namun kita seringkali mengabaikan suaraNya yang lembut, sehingga tidak lagi menyadari tuntunanNya. Hari ini mintalah Tuhan memberi hati yang baru dan bulatkanlah tekad untuk belajar peka mendengar suaraNya yang selalu menggema melalui firman dan hati nurani kita.

DOA: Bapa, aku membulatkan hatiku untuk tidak mengabaikan bisikan nuraniku yang seringkali Kau pakai untuk menasihati dan menuntun jalan hidupku. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa dan memohon. Amin.

KATA-KATA BIJAK: Kaki orang yang mendengarkan tuntunan dan nasihat Tuhan tidak akan pernah goyah.

Membaca Kitab Suci

Written By Unknown on Tuesday, October 16, 2012 | 11:50 PM

Seorang Kakek hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky (Amerika) dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Alkitab di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.

Suatu hari sang cucu bertanya, " Kakek! Aku mencoba untuk membaca Alkitab seperti yang kakek lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupa secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Alkitab?" Dengan tenang sang Kakek mengambil keranjang tempat arang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, " Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air."

Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, " Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang arang itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu.

Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi.

Sambil terengah-engah ia berkata, " Lihat Kek, percuma!" " Jadi kamu pikir percuma?" Jawab kakek. Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya. " Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu TELAH BERUBAH dari keranjang arang yang tua kotor dan kini BERSIH LUAR DAN DALAM.

"Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu MEMBACA ALKITAB. Kamu TIDAK BISA MEMAHAMI atau INGAT segalanya, tetapi KETIKA kamu MEMBACANYA LAGI, kamu AKAN BERUBAH, luar dalam. Itu adalah KARUNIA dari ALLAH di dalam hidup kita."
Mazmur 119 : 9, 105

Sumber: renungan-harian-kita.blogspot.com

Fokus

Written By Unknown on Monday, October 15, 2012 | 12:26 PM

Filipi 3:13
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.

Tidak dapat disangkal bahwa fokus adalah salah satu elemen penting bagi seseorang untuk mencapai tujuan. Ada kekuatan yang luar biasa di balik sebuah tujuan yang terarah dengan tajam. Bayangkan betapa hebatnya tenaga sinar matahari yang diarahkan dengan fokus kepada sebuah titik melalui kaca pembesar. Titik kecil yang terarah itu dapat membakar habis sebuah kertas, bahkan sebuah hutan.

Sedemikian berbahayanya kekuatan hidup yang terfokus sehingga iblis senantiasa berusaha membuat anak-anak Tuhan sibuk dan bahkan buta akan tujuan hidup mereka yang sesungguhnya. Kadang ada begitu banyak pintu peluang yang terbuka dan membuat kita bimbang untuk melangkah karena seolah semua peluang itu tampak begitu sempurna. Tidak jarang terbersit keraguan apakah pilihan yang akan diambil merupakan keputusan yang tepat dan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bagaimana kerinduan rasul Paulus yang terutama adalah untuk mengenal Tuhan dan bersekutu denganNya. Fokus kehidupan Paulus hingga akhir hidupnya adalah senantiasa melekat kepada Tuhan. Itulah yang membuat ia bertahan dalam pelayanannya dan menjadi salah satu rasul terbesar dalam sejarah.

Ketika kita mulai menempatkan kembali Tuhan sebagai prioritas utama kita, percayalah bahwa kekuatan kuasaNya akan bekerja dengan dahsyat melalui hidup kita. Mari awali hari ini dengan mencari Tuhan telebih dahulu, maka semuanya akan ditambahkan kepada kita.

First thing first. Put God first.
Sumber: renungan-harian-kita.blogspot.com

Apakah Kita Takut Akan Tuhan?

Written By Unknown on Sunday, October 14, 2012 | 3:13 AM

“Dalam takut akan Tuhan ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anakNya.” Amsal 14:26

Secara kodrat manusia memiliki kecenderungan memberontak, tidak taat, senang melanggar dan secara sembunyi-sembunyi melakukan hal-hal yang justru dilarang Tuhan. Manusia pertama, Adam dan Hawa, telah memulainya dengan melanggar perintah Tuhan. Mereka memakan buah dari pohon yang berada di tengah-tengah taman Eden, padahal hal itu dilarang Tuhan untuk dimakan. Namun mereka memakan buah itu walau dengan alasan mereka menjadi korban tipu muslihat si Iblis. Sebenarnya apabila rasa takut akan Tuhan melebihi keinginan hatinya, tak mungkin terjadi pelanggaran itu. Setelah peristiwa itu mereka mulal tidak tenteram dan sejak itu muncullah perasaan takut yang pertama kali dalam hati manusia pertama itu sehingga “Ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-joian dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.” (Kejadian 3:8). Saat Tuhan memanggil dan bertanya di mana mereka berada, mereka menjadi takut baca Kejadian 3:9-10).

Rasa ‘takut’ yang dimiliki Adam dan Hawa saat itu berbeda arti dengan ‘takut’ yang tertulis dalam ayat nas di atas. Kata ‘takut’ dalam Amsal 14:26 menunjukkan suatu rasa respek, hormat dan segan kepada Tuhan sehingga seseorang berusaha untuk taat. Sebaliknya kata ‘takut’ yang tertulis dalam Kejadian 2:10 menunjukkan ketakutan dalam diri seseorang karena ada dosa jang disembunyikan akibat pelanggaran terhadap firman Tuhan. Dengan keadaan ini timbullah rasa ketidaktenangan dalam batin karena dihantui terus oleh nasa bersalah.

Orang yang takut akan Tuhan akan bebas dari ketakutan karena padanya tidak ada dosa yang disembunyikan. Selalu ada penlindungan bagi keturunannya! Sekali pun mata manusia tak melihat, ia tetap memilih untuk hidup taat dan tidak melakukan kejahatan karena telah mengerti bahwa “. . . tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13).

Hidup dalam ketaatan dan kekudusan adalah bukti seseorang takut akan Tuhan!

Sumber:  http://renungan-harian-kita.blogspot.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Paroki St. Laurentius Bandung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger